Kelompok Al Shabaab Klaim Serangan di Kenya

Mobil yang dibakar di kompleks hotel di Kenya. (Foto: AFP)

Nairobi: Kelompok militan Al Shabaab mengaku bertanggungjawab atas serangan teror di sebuah kompleks hotel di Kenya. Kelompok ini memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.

Kelompok yang berbasis di Somalia ini, kerap melancarkan sejumlah serangan untuk menggulingkan Pemerintah Somalia yang didukung Barat.

“Kami menyerang Nairobi ingin menerapkan hukum Islam dengan ketat di Kenya,” kata Abdiasis Abu Musab, juru bicara kelompok tersebut, dikutip dari AFP, Rabu 16 Januari 2019.

Usai serangan, asap masih membubung tinggi di sekitar kompleks hotel yang bernama 14 Riverside Drive ini. Petugas pemadam kebakaran segera memadamkan api dari tiga mobil yang terbakar di pintu masuk.

Baca: Serangan Teror di Kompleks Hotel Kenya, 15 Tewas

Setidaknya 15 orang dinyatakan tewas dalam serangan ini. Sejumlah orang juga telah dibawa ke rumah sakit karena terluka. 

Kepala Polisi Kenya Joseph Boinnet mengatakan, serangan tersebut dimulai dengan ledakan yang menargetkan tiga mobil di tempat parkir dan pengeboman bunuh diri di teras Hotel Dusit.

Selain itu, suara tembakan dan ledakan membuat orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Pasukan keamanan Kenya telah melakukan pengamanan di sejumlah bangunan di lokasi penyerangan.

“Tim keamanan telah mengevakuasi sejumlah warga Kenya dan warga negara lain dari gedung. Kami sekarang dalam tahap akhir membersihkan area dan mengamankan bukti dari peristiwa ini,” sebut pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Kenya.

Serangan terakhir terjadi di Kenya pada 2013 tepatnya di Westgate, Nairobi. Saat itu, kelompok teroris Al-Shabaab menewaskan 67 orang di pusat perbelanjaan mewah. 

(WIL)

Arab Saudi Deportasi Belasan Rohingya ke Bangladesh

Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh. (Foto: AFP)

Riyadh: Arab Saudi mendeportasi belasan pengungsi Rohingya ke Bangladesh, meskipun mereka berasal dari Myanmar. Sebelumnya, para pengungsi Rohingya ditampung di pusat penahanan Shumaisi di Jeddah.

Dilansir dari laman Aljazeera, Rabu 16 Januari 2019, beberapa Rohingya juga diborgol ketika mereka berusaha menolak dideportasi ke Bangladesh.

Menurut salah satu pengungsi, mereka telah ditahan di pusat penahanan di Jeddah selama enam tahun terakhir sebelum dideportasi.

“Mereka (petugas) datang ke sel kami di malam hari sekitar pukul 21.00 (waktu setempat), mengepak tas-tas kami dan memberitahu kami untuk bersiap pergi ke Bangladesh,” kata seorang pengungsi Rohingya.

“Sekarang saya diborgol dan akan dibawa ke negara yang bukan asal saya. Rohingya bukan berasal dari Bangladesh,” ucap dia.

Mayoritas, para pengungsi Rohingya ini kedapatan memasuki Arab Saudi menggunakan visa ziarah namun setelah itu mereka bekerja. Mereka dikirim ke pusat penahanan ketika terjaring razia dan ditemukan tanpa memiliki dokumen sah untuk bekerja.

Sebagian besar Rohingya masuk ke Arab Saudi pada 2012 ketika kekerasan meletus di Rakhine. Ketika sampai di Dhaka nanti, mereka akan bergabung dengan para keluarga Rohingya yang ditampung sementara di Cox’s Bazar.

Ketika memasuki Arab Saudi, mereka tidak dianggap sebagai Rohingya, karena identitas tersebut tidak diakui Arab Saudi. Rohingya dianggap sebagai keturunan India, Pakistan, Bangladesh atau Nepal.

Para pejabat Arab Saudi pun mencoba menawarkan para pengungsi Rohingya ini kepada negara-negara tersebut untuk dideportasi, dan hanya Bangladesh yang mau menerima.

(WIL)

Musim Dingin di Suriah Tewaskan 15 Anak-anak

Anak-anak di Suriah yang harus melawan suhu dingin di penampungan. (Foto: AFP).

Damaskus: Musim dingin mendera Suriah dalam beberapa waktu terakhir. Anak-anak menjadi korban akibat suhu yang mendadak turun drastis itu.

“15 anak-anak tewas akibat suhu udara dan kurangnya persediaan medis,” laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti dikutip AFP, Selasa, 15 Januari 2019.

“Delapan dari dari anak-anak itu tewas karena musim dingin di tempat pengungsian Rukban di tenggara Suriah. Tujuh anak lainnya meninggal saat dipindahkan dari wilayah basis pertahanan kelompok militan di Hajin,” imbuh laporan itu.

Ribuan jiwa hidup dalam kondisi buruk di Rukban. Sebagian besar dari pengungsi hidup di wilayah yang pernah dikuasai oleh militan Islamis State (ISIS) dan terjebak setelah pihak Yordania menutup perbatasan.

Pada 2017, sekitar 20 orang tewas akibat kurangnya perawatan medis di dalam tempat penampungan.

Konflik di Suriah sudah berlangsung sejak 2011. Presiden Bashar Al-Assad terus mempertahankan kekuasaannya dari gempuran pasukan pemberontak dan juga kelompok ISIS yang sempat menguasai wilayah di negara itu.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), korban tewas akibat konflik ini mencapai 560 ribu jiwa. Sedangkan warga yang mengungsi mencapai sekitar tujuh juta jiwa.

(FJR)

Turki Akan Bentuk Zona Aman di Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara, 15 Januari 2019. (Foto: AFP/ADEM ALTAN)

Ankara: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut negaranya akan membentuk semacam “zona keamanan” di Suriah utara. Pembentukan zona ini merupakan saran Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Erdogan.

Erdogan mengaku telah melakukan “diskusi positif” dengan Trump via sambungan telepon pada Senin malam. Dalam percakapan itu, Erdogan menyebut “zona keamanan seluas 30 kilometer di perbatasan Suriah akan dibangun oleh kami.”

Turki mendukung rencana Trump yang ingin menarik semua pasukan AS dari Suriah. Namun pasukan Kurdi yang merupakan mitra AS tapi dianggap teroris oleh Turki telah memicu ketegangan antara Washington dengan Ankara.

Minggu kemarin, Trump menuliskan di Twitter bahwa “perekonomian Turki akan hancur” jika Erdogan menyerang pasukan Kurdi di Suriah. Ancaman tersebut memicu kemarahan di Ankara.

Merespons pernyataan Trump di Twitter, Erdogan mengaku kecewa. Namun ia menyebut telah menyepakati sebuah perjanjian dengan Trump via sambungan telepon. “Kami telah mencapai kesepakatan penting,” tutur Erdogan.

Dia menambahkan Turki akan menyelesaikan isu Kurdi dan Suriah ini dengan “semangat aliansi” bersama Trump. Namun ia mengingatkan AS untuk memerhatikan juga isu-isu sensitif bagi Turki.

AS menjadikan pasukan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), bagian dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebagai ujung tombak dalam menghadapi kelompok militan Islamic State (ISIS) di Suriah. Namun Ankara menganggap YPG sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdi (PKK), yang telah memberontak di Turki selama berdekade-dekade.

PKK dianggap grup teroris baik oleh Turki maupun AS.

(WIL)

Demo Kenaikan BBM di Zimbabwe Memakan Korban

Warga Zimbabwe menyerang ibu kota Harare memprotes kenaikan BBM. (Foto: AFP)

Harare: Sejumlah orang diperkirakan tewas dalam protes di Zimbabwe. Protes ini terkait penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinaikkan pemerintah hingga dua kali lipat.

Ratusan pedemo lainnya ditangkap otoritas setempat ketika mencoba menyerbu ibu kota Harare dan Kota Bulawayo. 

Menanggapi demo ini, Presiden Emmerson Mnangagwa mengatakan, kenaikan harga BBM ditujukan untuk mengatasi peningkatan penggunaan BBM secara ilegal.

Kini, harga bensin di Zimbabwe naik menjadi USD3,31 dari USD1,24 dan untuk diesel menjadi USD3,11 dari USD1,36.

Dilansir dari BBC, Selasa 15 Januari 2019, saat ini Zimbabwe sedang dilanda krisis ekonomi. Inflasi diketahui sangat tinggi sementara upah mengalami stagnasi.

Meski membenarkan ada korban jiwa, Menteri Keamanan Owen Ncube tak membeberkan berapa jumlah orang yang tewas. Di samping itu, ia menyalahkan para tokoh oposisi terkait demo ini.

Selain krisis, Zimbabwe juga sedang menghadapi kekurangan uang tunai dalam bilangan dolar Amerika Serikat, serta uang kertas obligasi yang kehilangan nilainya, yaitu lebih rendah dari USD1.

Perusahaan-perusahaan di Zimbabwe juga tidak dapat memenuhi permintaan untuk mendapatkan mata uang asing dengan cara mengekspor barang. Sebaliknya, Zimbabwe mengimpor lebih banyak produk dan barang daripada mengekspor.

(WIL)

Turki Balas Ancaman Trump soal Kurdi

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu dalam konferensi pers di Ankara, 14 Januari 2019. (Foto: AFP/ADEM ALTAN)

Ankara: Turki menegaskan tidak akan bisa diintimidasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal isu pasukan Kurdi di Suriah. Ini merupakan respons Ankara terhadap Trump, yang mengatakan perekonomian Turki akan hancur jika pasukan Presiden Recep Tayyip Erdogan berani menyerang pasukan Kurdi di Suriah.

Ancaman dilontarkan Trump setelah Turki berulang kali mengancam akan menggelar operasi terbaru lintas perbatasan untuk menghadapi pasukan Unit Perlindungan Masyarakat Kurdi atau YPG. Selama ini, Turki menganggap YPG sebagai grup teroris.

Padahal, YPG adalah bagian dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang merupakan ujung tombak dari koalisi pimpinan AS dalam melawan kelompok militan Islamic State (ISIS).

“Kami sudah berulang kali mengatakan, kami tidak takut, dan tidak akan terintimidasi oleh ancaman apapun,” tegas Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, seperti dilansir dari laman AFP, Senin 14 Januari 2019.

“Segala bentuk ancaman terhadap perekonomian Turki tidak akan berdampak apapun,” lanjut dia.

Juru bicara Erodgan, Ibrahim Kalin, sebelumnya mengatakan Ankara akan “melanjutkan perang melawan mereka semua.” Kalin merujuk pada ISIS dan juga YPG.

Isu Kurdi ini muncul usai Trump mengumumkan hendak menarik seluruh personel militer AS dari Suriah. Turki menyambut baik keputusan Trump, dan Erdogan pernah berbicara via telepon dengannya untuk memastikan Ankara akan melanjutkan misi koalisi dalam menghabisi ISIS.

Namun beberapa waktu usai pengumuman penarikan, Trump mengatakan dirinya baru akan menarik semua personel militer jika ISIS sudah benar-benar dikalahkan. Ia juga mendorong adanya pembentukan zona aman seluas 30 kilometer di Suriah, saat nanti pasukan AS ditarik.

Dalam konferensi pers di Ankara bersama Menlu Luxembourg Jean Asselborn, Cavusoglu menambahkan Turki “tidak menentang” pembentukan “zona aman” di Suriah.

(WIL)

Pesawat Kargo Jatuh di Iran, 13 Orang Tewas

Petugas keamanan dan pemadam berada di lokasi kecelakaan pesawat kargo di dekat Teheran, Iran, 14 Januari 2019. (Foto: AFP/HASAN SHIRVANI)

Teheran: Sebuah pesawat kargo militer jatuh di dekat Teheran, Iran, Senin 14 Januari 2019. Kantor berita Fars, yang dianggap dekat dengan militer Iran, mengatakan ada 16 orang di pesawat tersebut, dan satu-satunya korban selamat adalah seorang teknisi.

Media IRIB menyebut ada 10 orang di pesawat tersebut. Sementara AFP mengutip keterangan dari militer Iran, yang menyatakan jumlah korban tewas sejauh ini mencapai 13 orang.

“Kargo (Boeing) 707 yang membawa daging lepas landas dari Bishkek di Kirgistan, dan melakukan pendaratan darurat di bandara Fath pagi ini,” ucap militer Iran dalam keterangan di situs resminya.

Bandara Fath terletak di provinsi Alborz, di wilayah barat laut dari Teheran. “Pesawat keluar landasan saat mendarat, dan terbakar usai menabrak tembok di ujung bandara,” lanjut militer Iran.

IRIB memperlihatkan tayangan pesawat yang terbakar. Beberapa media lainnya memperlihatkan tim penyelamat mengelilingi badan pesawat.

“Detail dari kecelakaan dan jumlah korban masih diselidiki,” sebut pihak militer.

(WIL)

Belasan Negara Afrika Serukan Hitung Ulang Pemilu Kongo

Johannesburg: Sebuah organisasi negara-negara Afrika menyerukan adanya penghitungan ulang hasil pemilihan umum presiden di Republik Demokratik Kongo. Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), yang terdiri dari 16 negara, menilai ada sesuatu yang aneh dalam pilpres tersebut.

“Ada keraguan kuat atas hasil pemilu. Penghitungan ulang diperlukan untuk menghadirkan kepastian bagi pemenang dan kubu yang kalah,” ucap SADC, seperti dilansir dari laman Guardian, Minggu 13 Januari 2019.

SADC juga menyarankan adanya solusi politik yang telah dinegosiasikan sebelumnya untuk membentuk pemerintah persatuan nasional di RD Kongo.

Pernyataan SADC menggarisbawahi kekhawatiran yang terus berkembang di RD Kongo. Alih-alih menjadi titik balik menuju hal positif, pemilu pada 30 Desember 2018 justru memperdalam krisis politik di RD Kongo dan berpotensi berubah menjadi kericuhan.

Dikhawatirkan jika RD Kongo rusuh akibat pemilu, beberapa negara lain di wilayah pusat, timur dan selatan di benua Afrika juga akan terkena imbasnya.

Komisi Pemilu RD Kongo menyatakan pemenang pemilu adalah Felix Tshisekedi, pemimpin partai oposisi utama di RD Kongo. Tshisekedi mengalahkan politikus Martin Fayulu lewat selisih tipis perolehan suara.

Namun Fayulu, seorang mantan eksekutif dan anggota parlemen, mengklaim dirinya menang mutlak. Ia menuduh Tshisekedi telah membuat kesepakatan tertentu dengan Presiden Joseph Kabila agar dinyatakan sebagai pemenang.

Baca: Felix Tshisekedi Pimpin Oposisi Menang Pemilu Kongo

Klaim Fayulu didukung Gereja Katolik di DR Kongo yang memiliki pengaruh besar. Gereja telah mengerahkan sekitar 40 ribu relawan untuk mengawasi jalannya pemilu.

Gereja Katolik RD Kongo mengaku menemukan perbedaan data, dan seharusnya pemenang pemilu bukanlah Tshisekedi.

Jika hasil pemilu tidak diubah, maka Tshisekedi akan menjadi pemimpin pertama di RD Kongo yang berkuasa lewat proses pemilu. Ini merupakan pemilu pertama RD Kongo sejak negara tersebut merdeka dari Belgia pada 1960.

RD Kongo dilanda korupsi, konflik bersenjata, dan wabah penyakit. Jumlah rata-rata kasus kekerasan seksual serta malnutrisi di RD Kongo juga disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.

Sumber utama pendapatan RD Kongo berasal dari sektor mineral, termasuk beberapa jenis krusial dalam membuat komponen untuk telepon genggam dan mobil listrik.

(WIL)

Sepanjang 2018, KJRI Jeddah Pulangkan 7.783 WNI Bermasalah

Jeddah: Sepanjang 2018, KJRI Jeddah telah membantu pemulangan WNI sebanyak 7.783 orang. Mereka terdiri dari 2.199 laki-laki, 4.872 perempuan dan 712 anak-anak.

Dengan menerbitkan dokumen Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), seluruh WNI tersebut dapat dipulangkan. Sebelumnya, mereka sempat dimasukkan ke rumah tahanan imigrasi Arab Saudi karena melakukan berbagai pelanggaran.

Sebagian besar dari jumlah WNI tersebut adalah pemegang visa kerja. Namun, sebagian lagi ada yang memegang visa umrah dan kemudian menetap serta bekerja dan ada pula yang masuk ke Arab Saudi dengan visa ziarah namun dengan tujuan bekerja.

“Mereka ditangkap di beberapa tempat, seperti penampungan, jalanan bahkan ada yang di Perlintasan Tawaf dan Sa’i di dalam Masjidil Haram,” kata Konsul Jenderal RI untuk Jeddah Mohamad Hery Saripudin kepada Medcom.id, Senin 14 Januari 2019.

Bahkan akhir Desember 2018 dan awal Januari 2019, sebanyak 25 WNI diamankan pihak keamanan Arab Saudi saat mendorong kursi roda jemaah umrah di Perlintasan Tawaf dan Sa’i Masjidil Haram dengan imbalan sejumlah uang.

“Mereka punya iqamah, semacam kartu izin menetap, tapi tetap ditangkap karena kedapatan bekerja bukan pada kafil (majikan)nya. Artinya yang mereka kerjakan tidak sesuai dengan profesi yang tertera di iqamah mereka,” imbuh Hery.

Tak hanya WNI, warga negara asing di Arab Saudi juga bisa ditangkap karena berbagai pelanggaran. Sebagian diamankan karena masa berlaku izin tinggal telah habis, sebagian karena berbaur atau berada dalam satu rumah dengan WNI yang tidak berdokumen resmi. Ada juga karena bekerja tidak sesuai profesinya di kartu izin tinggal (iqamah).

Setelah ditahan, mereka harus membayar denda. Namun, jika tidak segera membayar denda, warga negara asing dan juga WNI tersebut akan terus ditahan sampai perwakilan negaranya yang berada di Arab Saudi dapat menjamin.

Seiring dengan maraknya razia oleh otoritas berwenang di Arab Saudi, Hery mengimbau agar WNI yang berada di Riyadh maupun Jeddah dan kota-kota lain untuk mematuhi hukum yang berlaku di Arab Saudi sehingga terhindar dari masalah hukum.  

(WIL)

Menlu AS Desak Pangeran Saudi Selesaikan Kasus Khashoggi

Menlu AS Mike Pompeo (kiri) ketika tiba di Riyadh dan disambut oleh Menteri Negara Urusan Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir. (Foto: AFP)

Riyadh: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo meminta Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk segera menyelesaikan kasus Jamal Khashoggi. Desakan ini akan disampaikan langsung dalam tur Timur Tengah yang dilakukan Pompeo.

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis asal Arab Saudi yang dinyatakan hilang pada 2 Oktober 2018, sesaat setelah dirinya memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Usai dinyatakan hilang, Khashoggi dikonfirmasi tewas dibunuh. 

Baca: PBB Serukan Kembali Investigasi Independen Kasus Khashoggi

Sejumlah pihak mencurigai Pangeran Mohammed sebagai dalang di balik pembunuhan, karena Khashoggi sempat beberapa kali mengkritiknya. “Saya akan terus menekan Pangeran Arab Saudi untuk memastikan pertanggungjawaban sehubungan dengan tewasnya Jamal Khashoggi,” kata Pompeo, sebelum terbang ke Riyadh, dikutip dari AFP, Senin 14 Januari 2019.

Pompeo juga meminta semua fakta dikumpulkan agar Arab Saudi dapat segera memproses hukum bagi para pelaku pembunuh Khashoggi. 

Setelah mendarat di Riyadh dan bertemu dengan Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Adel al-Jubeir, Pompeo akan meminta Arab Saudi untuk menyelesaikan penyelidikan atas pembunuhan misterius tersebut.

Selain Arab Saudi, Pompeo juga akan berkunjung ke Yordania, Mesir, Qatar, Oman, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan yang terakhir adalah Kuwait.

Baca: Lima Tersangka Pembunuh Khashoggi Dituntut Hukuman Mati

Sementara itu, Jaksa Arab Saudi menuntut hukuman mati bagi lima tersangka pembunuh jurnalis Jamal Khashoggi. Selain lima orang tersebut, masih ada enam orang tersangka lainnya.

Sebelas tersangka ini datang dengan pengacara masing-masing. Namun, jalannya persidangan tak diungkap ke publik. Nama para tersangka juga tidak dibeberkan.

(WIL)

Penghargaan Indonesia dalam Festival Janadriyah di Arab Saudi

Riyadh: Penampilan delegasi Indonesia di Festival Budaya Janadriyah ke-33 di Arab Saudi, mendapatkan pengakuan besar. Kementerian Garda Nasional Arab Saudi menilai penampilan pameran seni dan budaya Indonesia sangat luar biasa.

Sebagai tamu kehormatan di festival ini, Indonesia meraih kesuksesan luar biasa dan menarik perhatian para pengunjung festival tahun ini. Pengunjung yang tidak hanya datang dari teluk ini, mencapai lebih dari 10 juta. Separuh lebih juga mengunjungi paviliun dan panggung seni Indonesia.

Dalam 21 hari, disamping pameran di dalam paviliun, Indonesia juga menampilkan atraksi budaya di panggung utama di luar paviliun sebanyak 240 kali pagelaran dengan melibatkan 600 pegiat seni yang datang dari Indonesia.

Panggung raksasa seni Indonesia yang setiap harinya dimulai pukul 16.00 sampai dengan pukul 23.00 menjadi primadona para pengunjung yang memenuhi lapangan di depan panggung Indonesia. Membanjirnya para pengunjung membuat para pasukan Garda Nasional Saudi melakukan pengamanan ekstra ketat untuk menertibkan penonton.


Pameran Indonesia yang dipenuhi warga Arab Saudi. (Foto: Dok.KBRI Riyadh).

“Tampilnya Indonesia di Festival Budaya Janadriyah sebagai satu-satunya negara tamu kehormatan adalah wujud nyata dialog antar budaya dan peradaban Nusantara dengan peradaban Timur Tengah untuk pertama kalinya. Kesuksesan gemilang Indonesia ini adalah berkat dukungan nyata dari Raja Salman bin Abdulaziz dan Presiden Joko Widodo,” ujar Duta Besar RepubIik Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, dalam keterangan tertulis KBRI Riyadh, yang diterima Medcom.id, Senin, 14 Januari 2019.
 
“KBRI Riyadh sangat menyampaikan rasa terimakasihnya atas dukungan luar biasa dari Kemenko PMK, Kemendikbud, Kemenpar, Kemenpora dan Kemenag. Dan juga pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan Banyuwangi serta paguyuban seni angklung Yogyakarta juga mengirimkan tim seni budaya untuk kesuksesan pagelaran terheboh di Timur Tengah ini,” imbuhnya.

“Apresiasi juga KBRI sampaikan kepada seluruh WNI di Arab Saudi yang penuh kebersamaan gotong royong menyukseskan festival ini,” tutur Dubes Agus.

Direktur Jenderal Festival Janadriyah Kementerian Garda Nasional Arab Saudi Saud Al Rumi menyampaikan pameran dan penampilan seni budaya yang ditampilkan oleh Indonesia sangat istimewa dan memukau warga Arab Saudi termasuk pawai karnaval yang mengelilingi kawasan Janadriyah.

Lebih lanjut Dubes Agus menyuarakan pernyataan Al Rumi yang menyebut kesuksesan partisipasi Indonesia ini diyakini akan semakin memperkokoh hubungan kedua negara. Al Rumi menyatakan optimisme tersebut dengan sebuah ungkapan, ‘Negara anda adalah negara kami, dan negara kami adalah negara anda’.


Delegasi Indonesia dari Banyuwangi melakukan pentas tari. (Foto: Dok.KBRI Riyadh).

Menurut Duta Besar yang juga merangkap sebagai Wakil Tetap RI untuk Organisasi Kerja sama Islam (OKI) ini, dipilihnya Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi sebagai tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah mencerminkan bahwa hubungan bilateral kedua negara berada dalam masa keemasan. Hubungan tersebut diyakini akan semakin kokoh setelah paripurnanya perhelatan dialog antar dua peradaban Timur Tengah dan Nusantara di Janadriyah ini.

“Indonesia telah menampilkan yang terbaik dalam Festival Janadriyah. Hasilnya sangat positif, publik Arab Saudi saat ini mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik akan kekayaan budaya Indonesia. Hal ini akan semakin mempererat hubungan antar masyakarat kedua negara. Kami akan terus perkuat tali persaudaraan ini” ucapnya.

Hari terakhir Partisipasi Indonesia dalam Festival Janadriyah diakhiri dengan penampilan Fahad Munif, seniman Musik Gambus dari Indonesia yang mendapat sambutan sangat meriah dari publik Arab Saudi. Musik Gambus yang berakar dari Timur Tengah menjadi salah satu khazanah kekayaan budaya Indonesia yang dapat menjembatani kebudayaan Indonesia dan Arab Saudi.

“Gambus menjadi ikon kebersamaan, semangat keakraban dan kehangatan Arab Saudi dan Indonesia” pungkas Dubes Agus Maftuh Abegrebriel.

(FJR)

Rahaf al-Qunun Lebih Pilih Kanada Ketimbang Australia

Rahaf Mohammed al-Qunun (tengah) bersama Menlu Kanada Chrystia Freeland (kanan) di Toronto, Kanada, 12 Januari 2019. (Foto: AFP/Getty/Cole Burston)

Toronto: Kanada akhirnya menjadi negara pemberi suaka untuk Rahaf Mohammed al-Qunun, seorang remaja asal Arab Saudi yang mengaku melarikan diri karena takut dibunuh keluarganya. Awalnya, Rahaf memilih Australia sebagai negara tujuan akhir.

Dalam perjalanan menuju Australia, Rahaf terlebih dahulu turun di Bangkok. Di sana, paspornya sempat disita beberapa pejabat dari Kedutaan Besar Arab Saudi.

Setelah diserahkan otoritas Thailand ke Agensi Pengungsian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), Rahaf berniat melanjutkan proses permohonan suaka ke Australia. Negeri Kanguru juga terindikasi kuat akan memberikan suaka tersebut.

Namun pada akhirnya, Kanada yang menjadi pilihan Rahaf. “(Australia) terlalu lama. Itulah mengapa saya pergi ke Kanada,” ucap remaja 18 tahun itu, seperti disitat dari The Sun, Minggu 13 Januari 2019.

Baca: Australia Sebut Proses Suaka Rahaf al-Qunun Butuh Waktu

Rahaf tiba di Bandara Internasional Pearson di Toronto, Kanada, dengan menggunakan maskapai Korean Air dari Seoul pada Sabtu. Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland menyebut Rahaf sebagai “remaja baru Kanada yang sangat berani.”

“Dia wanita muda pemberani yang sudah melewati banyak kesulitan. Saat ini, dia akan menuju rumah barunya,” tutur Freeland. Ia menambahkan Rahaf belum akan memberikan keterangan publik karena sudah terlampau lelah dari perjalanan panjang.

Sebelumnya, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan kepada awak media bahwa Kanada memberikan suaka kepada Rahaf berdasarkan rujukan dari UNHCR. “Kanada akan selalu membela hak asasi manusia dan wanita di seluruh dunia,” tegas PM Trudeau.

Dalam keterangan kepada media BBC di awal pelarian, Rahaf mengaku takut dibunuh karena dirinya sudah menyatakan keluar dari agama Islam atau murtad. Ia juga disebut memilih lari untuk menghindari pernikahan paksa di Arab Saudi.

(WIL)

Truk BBM Meledak di Nigeria, 12 Orang Tewas

Truk BBM terguling dan terbakar di Odukpani, Nigeria, Jumat 11 Januari 2019. (Foto: AFP)

Odukpani: Sedikitnya 12 orang tewas saat sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak yang terguling di Nigeria meledak. Ledakan terjadi saat puluhan orang berada di sekitar truk untuk mengambil tumpahan BBM.

Ratusan orang tewas dalam peristiwa serupa dalam beberapa tahun terakhir di Nigeria, negara penghasil minyak terbanyak di benua Afrika. Sebagian warga sering mempertaruhkan nyawa untuk mengambil BBM yang bocor dari truk atau jaringan pipa penyalur.

Baca: Truk Tanki Gas Meledak, Lebih dari 100 Orang Dilaporkan Tewas

Tragedi terbaru ini terjadi pada Jumat 11 Januari malam di kota Odukpani di negara bagian Cross River. “Kami telah menemukan 12 jasad manusia dan membawa 22 lainnya yang mengalami luka bakar serius,” ucap juru bicara kepolisian Odukpani Irene Ugbo, seperti disitir dari laman Metro.co.uk, Sabtu 12 Januari 2019.

Namun sejumlah saksi mata menyebut jumlah korban tewas mendekati 60 orang. “Polisi hanya menemukan beberapa jenazah. Banyak korban tewas yang hangus terbakar hingga menjadi abu,” tutur Richard Johnson, seorang saksi mata.

Johnson menyebut sekitar 60 orang berada di sekitar truk untuk mengambil tumpahan BBM saat ledakan terjadi. “Hampir mustahil mereka semua bisa selamat,” ungkap dia, yang menduga ledakan terjadi akibat aliran listrik dari sebuah generator di dekat truk.

Hingga saat ini belum diketahui pasti bagaimana truk itu bisa terguling dan mengalami kebocoran. Sekitar satu tahun lalu, lebih dari 30 orang di wilayah yang sama tewas terbakar saat mengambil tumpahan BBM dari sebuah truk.

Kecelakaan terburuk di Nigeria terjadi pada 1998, saat lebih dari 1,000 orang tewas saat mereka sedang mengambil minyak yang bocor dari jaringan pipa penyalur di kota Jesse.

(WIL)

Terima Suaka, Rahaf al-Qunun Mendarat di Kanada

Toronto: Rahaf Mohammed al-Qunun, remaja 18 tahun asal Arab Saudi yang melarikan diri dari keluarganya karena takut dibunuh, akhirnya mendarat di Kanada, Sabtu 12 Januari 2019, usai mendapat suaka dari pemerintahan Perdana Menteri Justin Trudeau.

Awalnya Rahaf berusaha mencapai Australia via Bangkok, namun sempat terancam dideportasi. Namun usai meminta pertolongan via Twitter di sebuah kamar hotel, berbagai bantuan pun datang, termasuk dari Agensi Pengungsian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNHCR.

Dalam keterangan kepada media BBC di awal pelarian, Rahaf mengaku takut dibunuh karena dirinya sudah menyatakan keluar dari agama Islam atau murtad. Ia juga disebut memilih lari untuk menghindari pernikahan paksa di Arab Saudi.

Australia sempat terindikasi kuat hendak memberikan suaka kepada Rahaf. Namun pada akhirnya, suaka itu datang dari Kanada.

Rahaf tiba di Bandara Internasional Pearson di Toronto, Kanada, dengan menggunakan maskapai Korean Air dari Seoul pada Sabtu. Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland menyebut Rahaf sebagai “remaja baru Kanada yang sangat berani.”

“Dia wanita muda pemberani yang sudah melewati banyak kesulitan. Saat ini, dia akan menuju rumah barunya,” tutur Freeland. Ia menambahkan Rahaf belum akan memberikan keterangan publik karena sudah terlampau lelah dari perjalanan panjang.

Sebelumnya, PM Trudeau mengatakan kepada awak media bahwa Kanada memberikan suaka kepada Rahaf berdasarkan rujukan dari UNHCR. “Kanada akan selalu membela hak asasi manusia dan wanita di seluruh dunia,” tegas PM Trudeau.

Baca: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad

Mengapa Rahaf Melarikan Diri?

Masih dalam keterangan kepada BBC, Rahaf mengaku takut dibunuh keluarganya. “Saya tidak dapat belajar dan bekerja di negara saya. Jadi saya ingin bebas dan belajar dan juga bekerja seperti yang saya inginkan,” kata dia.

Secara terpisah, Rahaf mengatakan kepada media AFP bahwa dirinya telah mengalami kekerasan fisik dan psikologi dari keluarga, termasuk dikurung di kamar selama enam bulan hanya karena memangkas pendek rambutnya sendiri.

Seorang juru bicara keluarga Rahaf mengatakan kepada BBC bahwa mereka tidak ingin berkomentar dan hanya fokus pada keselamatan wanita muda tersebut.

UNHCR menyambut baik keputusan Kanada yang memberikan suaka kepada Rahaf. “Hukum pengungsi internasional dan nilai-nilai kemanusiaan telah berjaya,” tutur Komisioner Tinggi Pengungsian PBB< Filippo Grandi.

Langkah pemberian suaka dipastikan membuat hubungan Kanada dengan Arab Saudi semakin terburuk. Hubungan kedua negara sudah memburuk sejak Agustus tahun lalu, saat Ottawa mengkritik sejumlah dugaan pelanggaran HAM di Riyadh. 

Ketegangan kala itu berujung pada pengusiran Duta Besar Kanada dan pemutusan segala hubungan dagang dan investasi. Kanada juga memicu kemarahan Arab Saudi usai meminta “pembebasan segera” atas beberapa aktivis HAM, termasuk Samar Badawi.

(WIL)

Kanada Ingin Tampung 1 Juta Imigran di 2021

PM Kanada Justin Trudeau di New York, AS, 17 Mei 2018. (Foto: AFP/Getty/DREW ANGERER)

Ottawa: Kanada ingin menampung lebih dari satu juta imigran dalam periode tiga tahun ke depan, atau mencapai angka tersebut pada 2021. Hal ini disampaikan Kementerian Keimigrasian Kanada dalam laporan tahunan di parlemen.

Pada 2017, Kanada menerima 286.479 imigran sebagai penghuni tetap. Kanada menegaskan jumlah itu akan terus bertambah pada setiap tahunnya.

“Berkat peranan para pendatang baru sepanjang sejarah kita, Kanada telah berkembang menjadi negara kuat,” ucap Menteri Imigrasi Kanada Ahmed Hussen, seperti dinukil dari laman UPI, Jumat 11 Januari 2019.

“Imigran dan keturunannya telah memberikan kontribusi luar biasa kepada Kanada. Masa depan kita tergantung dari upaya memastikan bahwa mereka semua diterima dan berintegrasi dengan baik di tengah masyarakat,” lanjut dia.

Di bawah rencana Menteri Hussen, Kanada akan menerima sekitar 350 ribu imigran tahun ini, dan 360 ribu pada 2020 dan 370 ribu satu tahun setelahnya.

Data terbaru menunjukkan total populasi Kanada kurang dari 37 juta jiwa. Sekitar satu dari lima warga Kanada adalah imigran. “Imigran telah berkontribusi terhadap pertumbuhan kelas pekerja di Kanada,” tutur Menteri Hussen.

“Pertumbuhan level imigrasi, terutama di kelas ekonomi, akan membantu tenaga kerja, mendukung pertumbuhan ekonomi dan memicu inovasi,” tambah dia.

Pemerintahan Kanada di bawah Perdana Menteri Justin Trudeau telah mendorong penerimaan imigran sejak dirinya berkuasa pada 2015. Dua tahun setelah berkuasa, PM Trudeau menegaskan akan menyambut banyak imigran terlepas dari ras serta agama mereka. 

Tekad tersebut merupakan respons PM Trudeau terhadap larangan masuk ke Amerika Serikat bagi pengungsi asal beberapa negara mayoritas Muslim yang diterapkan Presiden Donald Trump.

“Keberagaman adalah kekuatan kita,” tulis PM Trudeau di Twitter kala itu.

Baca: Kanada Terima Suaka Rahaf Mohammed al-Qunun

(WIL)