Bus Tabrak Halte di Kanada, Tiga Orang Tewas

Ilustrasi kecelakaan bus. (Foto: Medcom.id)

Ottawa: Sebuah bus jenis double decker rusak parah usai menabrak salah satu halte di Ottawa, Kanada, Jumat 11 Januari 2019. Kecelakaan ini menewaskan tiga orang dan membuat 23 lainnya terluka.

Sejumlah foto di media memperlihatkan deretan kursi di lantai dua menggantung dari badan bus. Petugas pemadam menggunakan tangga, berusaha mencapai para korban luka. 

Sementara di area dekat lokasi, 25 mobil ambulans bersiaga mengangkut para korban di tengah dinginnya udara Ottawa.

Sejumlah saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa bus OC Transpo Route 269 berbelok tajam sebelum menghantam halte di Westboro. Kepala Kepolisian Charles Bordeleau mengatakan “beberapa korban terperangkap di lantai satu ” bus.

Dalam sebuah konferensi pers, seperti dilansir dari laman AFP, Wali Kota Ottawa Jim Watson mengatakan tiga orang tewas dan 23 lainnya terluka dalam kecelakaan “mengerikan” tersebut. Dari 23 korban luka, `14 di antaranya dalam kondisi serius.

Dua dari tiga korban tewas adalah penumpang bus. Sementara korban tewas ketiga adalah orang yang sedang berdiri di halte.

Bordeleau menyebut sopir bus sudah ditangkap di lokasi kejadian, dan akan diinterogasi untuk mencari tahu penyebab pasti kecelakaan.

Enam tahun lalu di Ottawa, bus double decker bertabrakan dengan sebuah kereta api. Tabrakan fatal tersebut menewaskan enam orang.

(WIL)

Suriah Sebut Misil Israel Hancurkan Gudang di Damaskus

Foto dari media SANA memperlihatkan sistem pertahanan udara Suriah merespons serangan misil dari Israel di Damaskus, 15 September 2018. (Foto: AFP/SANA/HANDOUT)

Damaskus: Kantor berita nasional Suriah, SANA, melaporkan bahwa pesawat jet tempur Israel melepaskan beberapa misil ke arah Damaskus pada Jumat 11 Januari 2019. Pertahanan udara Suriah berhasil menembak jatuh beberapa misil tersebut.

“Sejauh ini, serangan tersebut hanya menghancurkan salah satu gudang di bandara Damaskus,” kata SANA, mengutip seorang sumber di militer Suriah. Dilansir dari lama Al-Arabiya, serangan terjadi pukul 23.15 waktu setempat.

Terakhir kalinya pesawat tempur Israel menghancurkan beberapa target di Suriah terjadi pada hari raya Natal tahun lalu. Dalam peristiwa tersebut, pesawat Israel melepaskan misil ke arah Damaskus saat sedang terbang di langit Lebanon.

Serangan kala itu mengenai sebuah gudang senjata dan melukai tiga prajurit Suriah. Jumat petang kemarin, pesawat tempur dan juga jenis tanpa awak (drone) terdengar terbang di wilayah udara Lebanon.

Israel diyakini sebagai negara di balik serangkaian udara di Suriah, yang sebagian besarnya ditujukan kepada pasukan Iran dan Hizbullah. Selama ini, Iran dan Hizbullah membantu Suriah dalam menghadapi pemberontak dan sejumlah grup ekstremis.

Baca: Israel Luncurkan Misil ke Bandara Internasional Suriah

Mayoritas serangan Israel di Suriah berpusat di selatan Damaskus. Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyebut serangan terbaru mengenai dua titik pasukan Iran dan Hizbullah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bertekad tidak akan membiarkan Teheran — pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad — memperkuat kehadiran militer di Damaskus.

(WIL)

Kanada Terima Suaka Rahaf Mohammed al-Qunun

Ottawa: Perdana Menteri Justin Trudeau mengumumkan bahwa Kanada menerima permohonan suaka Rahaf Mohammed al-Qunun, remaja putri asal Arab Saudi yang melarikan diri dari keluarganya. Rahaf mengaku terpaksa melarikan diri karena takut dibunuh keluarga akibat keluar dari Islam atau murtad.

Sebelum muncul pengumuman dari PM Trudeau pada Jumat 11 Januari malam, awalnya Rahaf terindikasi kuat akan mendapat suaka di Australia. Negeri Kanguru merupakan negara tujuan pertama Rahaf dalam mencari suaka.

“Kanada secara tegas menyatakan bahwa kami membela hak asasi manusia dan wanita di seluruh dunia,” ungkap PM Trudeau, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu 12 Januari 2019.

“Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa melayangkan permintaan kepada kami untuk memberikan al-Qunun suaka, kami menerimanya,” lanjut dia.

Langkah pemberian suaka dipastikan membuat hubungan Kanada dengan Arab Saudi semakin terburuk. Hubungan kedua negara sudah memburuk sejak Agustus tahun lalu, saat Ottawa mengkritik sejumlah dugaan pelanggaran HAM di Riyadh. 

Ketegangan kala itu berujung pada pengusiran Duta Besar Kanada dan pemutusan segala hubungan dagang dan investasi. Kanada juga memicu kemarahan Arab Saudi usai meminta “pembebasan segera” atas beberapa aktivis HAM, termasuk Samar Badawi.

Percobaan melarikan diri Rahaf didukung banyak grup HAM di luar sana. Perjuangan Rahaf dinilai sebagai simbol dari perlawanan terhadap represi di Arab Saudi.

Rahaf sempat dipaksa mendarat di Thailand dalam pelariannya. Thailand sempat hendak mendeportasi dirinya saat tiba di Bangkok pekan kemarin.

Namun ‘bersenjatakan’ telepon genggam, Rahaf langsung membuka akun Twitter dan menceritakan segala sesuatu yang dialaminya. Thailand kemudian mengubah sikap 180 derajat dan berbalik membela Rahaf. Bangkok pun menyerahkan Rahaf kepada Agensi Pengungsian PBB atau UNHCR.

Baca: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad


Kronologi pelarian Rahaf al-Qunun. (Foto: AFP)

Kebebasan Beragama di Arab Saudi

Kebebasan beragama tidak secara resmi dilindungi di Arab Saudi. Warga yang meninggalkan Islam atau berpindah ke agama lain berpotensi dijerat hukum kemurtadan (apostasy).

Warga Saudi yang dijerat hukum semacam itu terancam divonis hukuman mati.

BBC World Service sempat berbicara dengan Noura, seorang teman yang sempat menulis di akun Twitter Rahaf. Dia mengatakan kenal dengan Rahaf di grup feminis Saudi, dan dia juga mengaku telah “melarikan diri” dari Arab Saudi karena sudah menjadi “eks Muslim.”

Noura mengatakan Rahaf adalah mahasiswi di sebuah universitas Saudi. Dia meyakini ayah Rahaf bekerja untuk pemerintah Saudi.

“Keluarga dia pernah mengurungnya di rumah selama sekitar enam bulan karena dia memotong rambutnya,” tutur Noura kepada BBC. “Saya terus berbicara dengannya setiap 20 menit. Dia sangat ketakutan,” ungkap Noura.

(WIL)

Sudan Menunggu Indonesia Datang Berinvestasi

Jakarta: Afrika merupakan pasar non-tradisional yang menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Sudan menjadi salah satu negara yang memiliki potensi besar bagi pengusaha Indonesia.

Duta Besar Sudan untuk Indonesia Elsiddieg Abdulaziz Abdalla mengakui Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi di dunia. Status keanggotaan di G20 dan berada di peringkat delapan ekonomi dunia, bagi Dubes Abdalla menilai Indonesia harus tersebar dalam hal investasi di dunia.

“Tahun ini saya baca bahwa Indonesia akan lebih fokus di Afrika. Saya tidak ingin bilang telat. Tetapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali,” ujar Dubes Abdalla, saat ditemui wartawan di Kantor Kedutaan Sudan, di Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

“Suka atau tidak suka, Afrika masih perawan. Pasarnya besar dan sumber dayanya pun luas. Beberapa kali saya dengar Presiden (Joko Widodo) mendorong rakyat Indonesia untuk pergi ke Afrika,” kata Dubes Abdalla.

Baca juga: 9 Kebijakan Hasil IAF 2018 untuk Diterapkan Indonesia dan Afrika.

Abdalla selalu mempertanyakan kenapa orang kerap merasa keberatan untuk pergi ke Afrika. Selama ini Indonesia punya modalnya, punya sumber daya dan Afrika bisa menjadi pasarnya. Dirinya pun menyayangkan ketika dia mencari data investasi Indonesia di Sudan, tidak ada catatan yang bisa ditemukan.

Berkaitan dengan Indonesia, Dubes Abdalla menginginkan kerja sama lebih besar dengan pihak pemerintah. Ini dikarenakan cara Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat (AS) ataupun negara Barat lain yang menggunakan politik dalam mengupayakan investasi.

“Jika dengan negara lain seperti Amerika, mereka berbicara politik terlebih dahulu baru berbicara bisnis. Jika mereka meminta sesuatu dan kami tidak melakukannya, maka akan ada sanksi. Dengan Indonesia tidak ada hal itu. Tidak ada tekanan,” ujarnya.

“Kami lihat hubungan Indonesia dengan negara lain sangat mudah. Karena itu kami sangat menerima para investor Indonesia menanamkan modalnya di Sudan. Ada banyak peluang,” Abdalla menambahkan.

Tetapi Abdalla mengingatkan perlunya riset yang memadai mengenai Afrika, khususnya Sudan. Ini yang sangat penting untuk melaporkan apa yang dimiliki Sudan agar pengusaha Indonesia bisa menanamkan modalnya di negara yang pecah dengan Sudan Selatan itu.

Beberapa sektor yang punya peluang besar bagi Indonesia melakukan investasi. Salah satunya menurut Dubes Abdalla adalah eksplorasi minyak bumi. Pertamina menurut Dubes Abdalla sempat berniat untuk berinvestasi, tetapi Dubes Abdalla melihat untuk saat ini Pertamina tengah menyelesaikan masalah di tubuhnya sendiri.

Satu hal lain yang mungkin membuat Pertamina mundur berinvestasi dari Sudan adalah sanksi yang dijatuhkan AS kepada Sudan di saat masa konflik saudara. Namun sanksi tersebut sudah dicabut dan pihak Sudan kini menunggu Pertamina untuk masuk dan melakukan investasi di Sudan.

Sektor lain yang menjadi tawaran besar agar pengusaha Indonesia berinvestasi di Sudan adalah emas dan termasuk juga sektor agrikultur. “Indonesia punya kemampuan dari segi sumber daya manusia dan mesin, datanglah ke Sudan dan berinvestasi. Pertamina adalah salah satu pilihan besar untuk memulai hubungan menguntungkan dengan Sudan,” tegasnya.

Satu perusahaan Indonesia yang juga tengah membuka peluang di Sudan adalah Salim Grup. Dubes Abdalla mengatakan, selama dua tahun terakhir tengah melakukan negosiasi dengan Salim Grup dalam sektor agrikultur.

Menurut Dubes Abdalla, Salim Grup bermaksud untuk membeli lahan yang akan ditanami gandum sebagai bahan baku mie. Mie itu akan dipasarkan di wilayah Afrika untuk memperluas pasar mereka.


Duta Besar Sudan untuk Indonesia Elsiddieg Abdulaziz Abdalla. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).

Pesawat, kereta dan mobil

Transportasi menjadi perhatian dari Dubes Abdalla. Melihat Indonesia yang saat ini bisa memproduksi pesawat, kereta dan mobil, Dubes melihat ini sebuah peluang yang bagus untuk dikembangkan.

Salah satu kelebihan Sudan adalah, negara tetangga mereka dikeliilingi oleh daratan. Mulai dari Chad, Sudan Selatan, Ethiopia dan Afrika Tengah berbatasan langsung dengan Sudan. Keberadaan pelabuhan Sudan bisa menjadi kelebihan karena dapat dijadikan pintu bagi investor Indonesia ke empat negara tetangga Sudan, selain Sudan sendiri.

Infrastruktur pun bisa menjadi peluang tempat Indonesia untuk berinvestasi. Sebagai salah satu negara dengan rel kereta terpanjang, tentunya Sudan merupakan sebuah peluang. Bahkan Sudan memiliki rel dari Laut Merah hingga keempat negara tetangganya.

“Kami menunggu Indonesia untuk datang. Datang dan berinvestasilah,” jelasnya.

“Untuk apa kami membeli pesawat dari Amerika, kalau kami bisa membelinya dari kalian (Indonesia). Kami bersedia untuk menggunakan kereta kalian atau bahkan mobil yang sudah kalian buat dan ekspor. Kalian memiliki kemampuan itu,” tutur Dubes Abdalla.

Tetapi memang menurut Abdalla masih ada peraturan yang tetap diikuti. Ini bagi Abdalla sama seperti halnya di negara lain dan paling penting adalah berinvestasi di Sudan.

Faktor keamanan

Salah satu isu yang membuat banyak pihak berat untuk melakukan investasi di Afrika pada umumnya adalah faktor keamanan. Tetapi Dubes Abdalla menampik hal tersebut.

“Masalahnya apakahnya Indonesia memiliki perwakilan kantor berita di Sudan? Tidak ada. Banyak pihak yang bergantung kepada media Barat mainstream untuk mencari tahu mengenai Sudan. Salah satu target dari media Barat ini adalah menciptakan citra buruk mengenai Afrika, agar kompetitor negara-negara itu tidak datang ke Afrika,” sebutnya.

Ini adalah menurut Dubes Abdalla menjadi media memberikan fakta yang beredar di negaranya. Hal tersebut juga berlaku mengenai kabar stabilitas politik di Sudan.

“Di seluruh Afrika dan tidak hanya Sudan, selalu ada kesulitan. Tetapi dengan adanya kesulitan itu, tidak berarti sebuah negara akan runtuh. Kami merasakan kesulitan ketika pemisahan Sudan Selatan. Itu sulit bagi kami, hampir 70 persen sumber minyak kini dikuasai Sudan Selatan. Ini membuat perekenomian kami mengalami kesulitan,” ujarnya.

“Tetapi dengan kesulitan itu, kami berupaya keras untuk memperbaikinya. Ini hidup ada naik turunnya. Kami kini tengah melakukan perbaikan di sektor perminyakan. Untuk emas, kami memiliki cadangan yang besar. Untuk itu kami berniat mengurus cadangan emas ini dengan baik,” sebut Dubes Abdalla.

Terlepas dari hal tersebut, Dubes Abdalla mengakui masih diperlukan banyak perbaikan dalam sektor keamanan. Luasnya wilayah Sudan, membuat pihak berwenang kesulitan menghadapi kejahatan yang terjadi. Selain itu, luasnya perbatasan Sudan dengan negara lain juga mengkontribusi masalah bagi negara itu.

Dubes Abdalla kembali menegaskan masalah di negaranya saat ini bukan politik, tetapi ekonomi. Sektor ekonomi ini yang ingin mereka genjot terutama dengan Indonesia agar bisa berkembang.

Indonesia di Afrika

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri (PPTM) 9 Januari 2019 menyebutkan kembali pentingnya Afrika untuk masa depan Indonesia.

Setelah kesuksesan Indonesia-Africa Forum pada 2018, pada 2019 ini Pemerintah Indonesia menurut Menlu Retno akan membuka inisiatif baru.

“Di tahun 2019, Indonesia akan juga menggagas beberapa inisiatif, antara lain: Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue,” ujar Menlu Retno Marsudi.

Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada Agustus 2019 yang direncanakan pada Agustus 2019, merupakan kelanjutan Indonesia-Africa Forum 2018 di Bali, April lalu.

Baca juga: Tantangan Indonesia Mengubah Mindset soal Afrika.

Hingga saat ini menurut Direktur Kerja Sama Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak, pendekatan Indonesia ke negara-negara Afrika mendapat hasil positif. Dari penyelenggaraan IAF saja menurutnya sudah ada kesepakatan bisnis senilai USD586,56 juta atau setara dengan Rp8,5 triliun.

Kini hal yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan edukasi mengenai Afrika, khususnya untuk kelas menengah. Selain itu, badan usaha milik negara (BUMN) dan beberapa perusahaan swasta Indonesia juga masih melihat negara-negara di Afrika dengan sebelah mata.

Pelajaran dari tahun 2017 hingga 2018 menurut Daniel menunjukkan outbond investment Indonesia ke Afrika bukan capital outflow. Namun, perusahaan-perusahaan Indonesia bisa mendapat devisa dan sumber dana internasional untuk kepentingan perusahaan tersebut.

(FJR)

Ancaman Pembunuhan Diarahkan kepada Rahaf Al-Qunun

Bangkok: Khawatir dengan keselamatannya, Rahaf Mohammed al-Qunun menghapus akun Twitternya, Jumat, 11 Januari 2019 ini. Dia dikabarkan mendapatkan ancaman pembunuhan.

Hingga saat ini remaja berusia 18 tahun itu tengah menunggu keputusan di mana dia diberikan suaka. Australia sebelumnya menyatakan kemungkinan akan menerima Qunun, tetapi masih membutuhkan proses.

Baca juga: Australia Sebut Proses Suaka Rahaf al-Qunun Butuh Waktu.

Rahaf Mohammed al-Qunun tiba di Thailand pada Sabtu 5 Januari dan pada awalnya ditolak masuk. Saat tiba, dia segera mulai memposting pesan di Twitter dari area transit bandara Suvarnabhumi Bangkok yang mengatakan bahwa dia telah “lolos dari Kuwait” dan hidupnya akan dalam bahaya jika dipaksa kembali ke Arab Saudi.

Dalam beberapa jam, sebuah kampanye muncul dijuluki #SaveRahaf, tersebar di Twitter oleh jaringan aktivis.

Sekitar tengah hari pada Jumat, akun Twitter-nya, @ rahaf84427714, menjadi offline setelah dia memposting bahwa dia memiliki “kabar buruk dan kabar baik!” Akun muncul kembali sebentar sekitar satu jam kemudian tetapi menjadi offline lagi dalam beberapa menit.

Seorang pengguna Twitter yang dikenal sebagai Nourah, yang Qunun sebut sebagai teman, menulis bahwa Qunun “menerima ancaman kematian dan karena alasan ini ia menutup akun Twitter-nya”.

Qunun, yang tinggal di Bangkok di lokasi yang dirahasiakan dan tidak dapat dimintai komentar, sebelumnya mengatakan di Twitter bahwa ia menerima ancaman pembunuhan dari seorang kerabat di platform media sosial.

Sophie McNeill, jurnalis Australia Broadcast Corp yang telah melakukan kontak langsung dengan Qunun, mengatakan remaja itu “aman dan baik-baik saja” tetapi sedang beristirahat sejenak dari Twitter.

“Dia baru saja menerima banyak ancaman mati,” kata McNeill di Twitter, seperti dikutip AFP, Jumat, 11 November 2019.

Baca juga: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan pada Kamis Australia menilai apakah akan memberikan suaka kepada Qunun. Menlu Payne menambahkan status suaka Qunun masih membutuhkan proses.

Payne mengatakan tidak ada kerangka waktu untuk sebuah keputusan. Tetapi Kepala Departemen Imigrasi Thailand, Surachate Hakparn, mengatakan itu akan menjadi jelas pada Jumat malam di mana Qunun akan diberikan suaka.

“Kesehatan fisik dan mentalnya baik. Kita harus tahu malam ini dia akan pergi ke negara mana,” pungkas Surachate kepada wartawan.

(FJR)

Beragam Kisah Tragis Pekerja Migran Indonesia di Arab Saudi

Jeddah: Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah menuntaskan berbagai kasus yang dialami oleh sebanyak 13 Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka sebelumnya ditempatkan sementara di shelter KJRI sambil menunggu penyelesaian kasusnya.

Berbagai permasalahan yang dialami 13 PMI tersebut, antara lain, tidak digaji, tidak dipulangkan hingga belasan tahun, mendapat perlakukan kasar pihak majikan dan keluarganya, menjadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan korban fitnah majikan yang berujung pada penjara.

PMI berinisial SRS (45), misalnya, baru sekitar satu tiba di Arab Saudi. Dia diselundupkan oleh seorang oknum untuk bekerja ke Arab Saudi menggunakan visa ziarah atau kunjungan. Setibanya di Bandara King Abdulaziz Jeddah, perempuan asal Lombok Tengah yang hanya lulusan SD ini tidak dijemput oleh calon pengguna jasa. Beruntung dia ditemukan oleh seorang staf KJRI yang tengah piket malam itu dan dibawa ke shelter.

Nasib NST lebih tragis. Perempuan berusia 44 tahun menjadi korban perdagangan orang. Dia juga diberangkatkan ke Arab Saudi dengan visa ziarah dalam kondisi mental yang kurang siap untuk bekerja. Perempuan asal Sukabumi ini akhirnya tidak betah dan mengalami depresi. Sang majikan memberinya 200 riyal dan menyuruhnya naik bus untuk pergi ke KJRI Jeddah. Tidak tahu harus berbuat apa dan harus ke mana, dia akhirnya dimasukkan ke rumah sakit umum King Fahad Jeddah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Ya begitulah dia kesehariannya. Kadang dia nyambung, kadang nggak. Kadang masuk ke ruangan saya dan gak mau keluar, tidur di sana. Baca koran terbalik,” terang Mochamad Yusuf, Konsul Tenaga Kerja KJRI Jeddah, dalam keterangan tertulis KJRI Jeddah, yang diterima Medcom.id, Jumat, 11 Januari 2019.

Diketahui NST diberangkatkan oleh seorang calo berinisial HS ke Arab Saudi meskipun dia masih dalam masa perawatan lantaran menderita gangguan kejiwaan.

Sejak Pemerintah Indonesia. memberlakukan moratorium pengiriman TKI informal awal 2011 ke Arab Saudi, marak kasus ‘penyanderaan’ asisten rumah tangga (ART) oleh majikan. Kasus tersebut juga dialami seorang ibu asal Malang Jawa Timur berinisial KJT. Perempuan kelahiran 1961 ini telah 13 tahun bekerja di daerah Al-Namas, kota kecil berhawa dingin dan berjarak sekitar 550 kilometer dari KJRI Jeddah.

Lain lagi kisah yang dialami ROS. Perempuan kelahiran 1982 ini telah sepuluh tahun bekerja di satu keluarga Arab Saudi di Najran, sebuah provinsi yang terletak di sisi barat daya Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman.

Karena rumah majikan yang sangat jauh dari KJRI Jeddah, yaitu sekitar 1.000 kilometer, perempuan asal Cianjur ini harus menunggu momen yang pas agar bisa kabur ke KJRI. Suatu ketika saat liburan, ROS diajak majikan jalan-jalan ke Jeddah. Ada kesempatan, dia melarikan diri ke KJRI dan meminta bantuan agar hak-haknya diperjuangkan, antara lain, gaji yang tidak dibayar majikan selama 7 tahun.

Kasus DSTS malah lebih menegangkan. Bukan hanya masalah ‘ditahan’ majikan dan sisa gaji yang tidak ditunaikan sebesar 39.000 riyal atau setara Rp140 juta. Perempuan yang telah bekerja selama 11 tahun sebagai ART di Jeddah itu kerap menerima perlakuan kasar dari majikan. Dia kerap dipukuli dan ditampar.

Kasus DSTS terungkap ketika dia bersama majikan hendak melakukan pergantian paspor. Sesuai prosedur, KJRI Jeddah menerapkan kebijakan wawancara untuk mengorek keluhan dan permasalahan, khusus dari PMI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Perempuan kelahiran Cirebon 1983 ini akhirnya diputuskan diamankan sementara di shelter KJRI dan kasusnya dibawa ke kantor tenaga kerja setempat. Sang majikan mengamuk lantaran gagal membawa dia pulang kembali ke rumah. Karena berbuat onar di premis diplomatik, majikan nakal ini akhirnya digelandang keluar untuk diproses lebih lanjut.

Nasib memilukan juga dialami PMI lainnya berinisial ASP. Ibu kelahiran Kendal 1969 ini telah bekerja selama 10 tahun sebagai ART dengan upah bulanan di bawah standar, yaitu 800 riyal. Sudah sisa gajinya dikemplang, ia malah dilaporkan majikan ke polisi atas tuduhan pencurian. Menurut penuturan ASP, sisa gajinya yang belum dibayarkan majikan senilai 72.200 riyal atau sekitar Rp260 juta. Akhirnya, dia dipenjara selama sebulan sebelum akhirnya dibebaskan oleh KJRI.

Penanganan kasus PMI

Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Hery M. Saripudin mengatakan, masih banyak rupa-rupa kasus PMI, khususnya kaum ibu yang bekerja di sektor rumah tangga. Sebagian telah berhasil diselesaikan, sebagian lagi masih kami perjuangkan.

Perkembangan penanganan setiap kasus, imbuh Konjen, selalu dilaporkan ke instansi berwenang di Jakarta dan pemerintah daerah agar menjadi perhatian bersama.

“Kepedulian bersama dari para pemangku otoritas insya Allah akan memberikan jaminan perlindungan yang lebih bagi para PMI, sehingga angka permasalahan yang menimpa mereka bisa ditekan,” kata Konjen Hery.

Konjen juga menyesalkan maraknya penempatan PMI secara unprocedural meskipun telah dilakukan penandatanganan joint statement antara Menteri perburuhan Arab Saudi dan Menteri Tenaga Kerja Indonesia.

“Belakangan marak WNI teruma kaum perempuan yang diberangkatkan dengan visa ziarah. Dari sini kita perlunya harus lebih hati-hati lagi terhadap praktek penyamaran pengiriman tenaga kerja dengan berpura-pura ziarah atau kunjungan wisata,” ujar Konjen.

Selain itu, Konjen Hery juga berharap agar aparat berwenang melakukan penegakan hukum kepada para pelaku penempatan PMI secara tidak prosedural yang kadang mengabaikan sisi kemanusiaan.

“Masa orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan dan sedang dirawat diberangkatkan juga. Ini kan sudah keterlaluan,” sesal Konjen.

Tiga belas pekerja migran Indonesia tersebut telah dipulangkan, sembilan diantaranya dikawal langsung oleh petugas dari KJRI Jeddah pada 7 Januari 2019 silam.

(FJR)

Pasukan Israel Tahan 15 Warga Palestina di Tepi Barat

Tentara Israel ketika melancarkan serangan. (Foto: AFP)

Tepi Barat: Pasukan Israel melancarkan serangan di Tepi Barat dekat Sungai Yordan pada Kamis 10 Januari kemarin. Mereka juga menahan sedikitnya 15 warga Palestina.

Beberapa kendaraan militer Israel menyerbu beberapa permukiman di Kota Hebron, selatan Tepi Barat. Di wilayah ini juga, tentara Israel menjarah sejumlah rumah dan menahan warga.

Dilansir dari AFP, Jumat 11 Januari 2019, mereka juga menyerbu kota kecil bernama Idhna dan Deir Samet serta menggeledah rumah.

Bentrokan kerap terjadi ketika para warga Palestina berusaha menghalangi jalan tentara Israel dan melemparkan batu serta botol kosong ke arah tentara.

Mereka juga harus berhadapan dengan peluru aktif, peluru logam yang berlapis karet dan gas air mata, sehingga sering menderita luka serius. Tak sedikit pula warga Palestina yang tewas di tangan tentara Israel.

Menurut data statistik Palestina, sebanyak 6.500 orang Palestina masih mendekam di berbagai instalasi tahanan Israel, termasuk sejumlah perempuan dan ratusan anak kecil.

Sementara itu, pasukan Israel menggunakan peluru logam yang dilapisi karet dan gas air mata terhadap warga, menembak dan melukai beberapa orang dengan peluru
karet. Akibatnya, warga Palestina menderita sesak nafas akibat menghirup gas air mata.

(FJR)

Pengungsi Palestina Terima Bantuan dari Indonesia

Amman: Indonesia terus berkomitmen memberikan bantuan kepada Palestina. Kali ini bantuan disalurkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk pengungsi Palestina di Jerash, Yordania.

Dalam menyalurkan bantuan ini Baznas berkerja sama dengan Jordan Hashemite Charity Organization (JHCO). Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amman menyebutkan bahwa kegiatan ini mendukung diplomasi kemanusiaan yang dicanangkan pemerintah sebagai salah satu bentuk pelaksanaan politik luar negeri RI.

“Mudah-mudahan bantuan obat-obatan yang diberikan akan dapat bermanfaat bagi rakyat Palestina yang masih berada di pengungsian”, tegas Dubes RI untuk Yordania Andy Rachmianto, kepada Maha Saqqa, Direktur Eksekutif Medical Aid for Palestinian (MAP).

MAP selama ini dikenal sebagai pengelola klinik kesehatan di kamp pengungsi Gaza di daerah Jerash-Yordania. Penyerahan bantuan ini juga disaksikan oleh Muhammad Kilani, Wakil Sekretaris Jenderal JHCO.

“Terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan zakatnya kepada para pengungsi Palestina. Semoga solidaritas sesama umat ini akan menjadi ladang amal yang diberkahi Tuhan Yang Maha Esa”, sebut Maha.

Sementara Muhammad Kilani mengatakan bahwa penyerahan bantuan obat-obatan kepada Klinik MAP ini merupakan tahap awal dari penyerahan bantuan obat-obatan yang akan dilakukan JHCO kepada sejumlah klinik lain di beberapa kamp pengungsi Palestina di Yordania.

Penyerahan bantuan obat-obatan ini merupakan tindak lanjut kerjasama antara Baznas dengan JHCO yang telah ditandatangani 8 Oktober 2018 di Kementerian Luar Negeri RI yang disaksikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dan Menteri Luar Negeri Palestina Riad Maliki.


Penyerahan bantuan Indonesia dari Baznas kepada pengungsi Palestina. (Foto: Dok.KBRI Amman).

Dalam tahap awal, Baznas telah mendistribusikan bantuan sebesar USD150.000 yang merupakan dana bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina yang berada di pengungsian dan sangat membutuhkan bantuan dari masyarakat dunia. Untuk pengungsi Palestina, Baznas mempunyai dua program yaitu di bidang kesehatan dan bidang Pendidikan, guna membantu para pengungsi untuk mengentaskan kemiskinan dan mendapatkan hidup yang lebih baik.

JHCO merupakan lembaga non-pemerintah yang dibentuk oleh pemerintah Kerajaan Yordania dan merupakan satu satunya lembaga yang mendapat mandat resmi untuk mengkoordinasikan penyaluran bantuan kemanusiaan, baik di dalam negeri Yordania maupun kepada negara-negara sahabat termasuk Palestina.  JHCO didirikan pada tahun 1990 atas inisiatif dan dipimpin langsung oleh Pangeran Hassan bin Talal, yang juga merupakan paman dari Raja Abdullah.

Dipilihnya JHCO sebagai sebagai mitra Baznas untuk penyaluran bantuan kepada pengungsi Palestina dikarenakan JHCO memiliki akses dan jaringan yang bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, antara lain dengan Otoritas Palestina, Pemerintah Israel, Tentara Nasional Yordania (Jordan Armed Forces/JAF), UNRWA, ICRC, dan berbagai Lembaga/organisasi internasional lainnya.

JHCO mempunyai jaringan data lengkap pengungsi di Yordania yang jumlahnya melebihi 4 juta orang, termasuk pengungsi Palestina sebanyak 2,2 juta orang dan 1,3 juga pengungsi Suriah serta pengungsi dari negara negara tetangga lainnya, seperti Irak, Yaman, Libya, dan Somalia.

(FJR)

Felix Tshisekedi Pimpin Oposisi Menang Pemilu Kongo

Kinshaha: Felix Tshisekedi, pemimpin partai oposisi terkemuka Republik Demokratik Kongo, dinyatakan sebagai pemenang kejutan pemilihan presiden 30 Desember di negara Afrika tengah.

Hasilnya, diumumkan pada Kamis pagi 10 Januari, berarti transfer kekuasaan melalui pemilu pertama dalam 59 tahun kemerdekaan di Republik Demokratik Kongo.

Kemenangan ini mengejutkan banyak pengamat yang yakin pihak berwenang akan memastikan kandidat pemerintah, Emmanuel Ramazani Shadary, menjadi pemenang dalam pemilu, yang ketiga sejak berakhirnya perang saudara berdarah pada 2002.

“Hormat kepada Kabila. Seorang mitra penting dalam transisi demokrasi di negara kita. Saya akan menjadi presiden dari segenap rakyat Kongo,” ujar Tshisekedi.

Kemenangan Tshisekedi sangat kontroversial karena jajak pendapat pra-pemilu telah memberikan keunggulan bagi kandidat terdepan yang vokal, Martin Fayulu, seorang mantan eksekutif bisnis yang dihormati.

Perolehan suara menempatkan Fayulu dengan 47 persen, setidaknya 20 poin unggul dari Tshisekedi. Penghitungan suara yang dikumpulkan oleh gereja Katolik Kongo mendapati Fayulu menang telak dalam pemilu.

Para pendukung Fayulu khawatir presiden yang akan tergantikan, Joseph Kabila, mendukung hasil pemungutan suara yang memenangkan calon yang dipilihnya sendiri, atau melakukan kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Tshisekedi, kepala partai oposisi utama. Fayulu sendiri langsung menolak hasil pemilu.

“Dari mana asal tujuh juta suara tambahan (untuk kemenangan Tshisekedi)? Pada 2019 ini, kita menolak kemenangan rakyat dicuri sekali lagi,” katanya, seperti dikutip dari Guardian, Kamis, 10 Januari 2019.

Polisi antihuru-hara dikerahkan di luar kantor komisi pemilu RD Kongo dan di berbagai lokasi lain di ibu kota, Kinshasa.

Sekretaris Jenderal Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan dia ‘mencatat’ pengumuman itu dan mendesak semua pihak agar ‘menahan diri dari kekerasan dan untuk menyalurkan sengketa pemilu melalui mekanisme kelembagaan yang sudah ada.’

Oposisi dilemahkan oleh argumen internal dan dikecualikan oleh komisi pemilu dari dua tokoh politik kelas berat: Jean-Pierre Bemba, mantan panglima perang, dan Moise Katumbi, seorang taipan populer.

Ayah Tshisekedi, Etienne, adalah pemimpin oposisi terkenal di bawah Mobutu. Dia meninggal tahun lalu dan putranya mewarisi partaianya, dan dengan itu ada peluang memenangkan kekuasaan. Para kritikus mengatakan Tshisekedi, 55, tidak terbukti, tidak berpengalaman, dan tidak memiliki karisma ayahnya.

Setelah pemilu tertunda dua tahun, pengumuman hasil suara tertunda lebih dari sepekan untuk memberikan lebih banyak waktu mengatasi tantangan logistik di negara dengan 80 juta penduduk. Para pemilih tersebar di wilayah seluas Eropa Barat dengan hampir tidak ada jalan beraspal.

Mandat jabatan kedua Kabila berakhir pada 2016 dan dia dengan enggan menyebut pemilu baru di bawah tekanan dari kekuatan regional. Konstitusi melarang dia mencalonkan diri lagi dan para kritikus mengklaim dia berharap untuk memerintah melalui Shadary, yang tidak memiliki basis politik sendiri.

Gereja Katolik Roma adalah institusi yang berwibawa di negara ini, dan dalam deklarasi bersama dengan sekelompok gereja Protestan dan misi pengamat pemilu, Symocel, konferensi para uskup Katolik menyerukan agar tenang dan menuntut agar dewan pemilihan Kongo, CENI, menerbitkan ‘hanya hasil yang keluar dari kotak suara’.

Pengamat pemilu domestik mengaku menyaksikan penyimpangan serius pada hari pemilu dan selama penghitungan suara, meskipun misi pengamat daerah mengatakan pemilu berjalan ‘relatif baik’.

Kabila, 47, memerintah sejak pembunuhan ayahnya pada tahun 2001, Laurent Kabila, yang menggulingkan diktator Mobutu Sese Seko yang menjabat sejak 1997.

Tshisekedi menjadi pemimpin pertama yang mengambil alih kekuasaan melalui kotak suara di RD Kongo sejak perdana menteri Patrice Lumumba tak lama sesudah negara itu memproklamasikan kemerdekaannya dari Belgia pada 1960. Lumumba digulingkan dalam sebuah kudeta dan terbunuh empat bulan kemudian.

Kongo menderita korupsi yang meluas, konflik berkepanjangan, penyakit endemik, dan beberapa tingkat kekerasan seksual, dan kekurangan gizi tertinggi di dunia. Negeri ini juga kaya akan mineral, termasuk material yang penting untuk ponsel dan mobil listrik dunia.

(FJR)

Iran Akui Penahanan Veteran Angkatan Laut AS 

Teheran: Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi pada Rabu 9 Januari bahwa seorang warga negara Amerika Serikat (AS) telah ditangkap di kota Mashhad. Tetapi pihaknya membantah laporan bahwa tersangka telah diperlakukan dengan buruk.

Juru Bicara Kemenlu Iran Bahram Ghasemi mengatakan bahwa Michael White, seorang veteran Angkatan Laut Amerika Serikat berusia 46 tahun, ditangkap ‘beberapa waktu lalu’ di kota terbesar kedua Iran.

Ghasemi berkata, Pemerintah AS, melalui kedutaan Swiss di Teheran, diberitahu tentang penangkapan itu pada hari-hari awal insiden. Kepentingan AS di Iran ditangani oleh misi diplomatik Swiss, karena kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik sejak 1980.

White, 46, asal Imperial Beach, California, ditangkap pada Juli setelah mengunjungi pacarnya di Mashhad, menurut ibunya kepada New York Times, awal pekan ini.

Kemenlu AS mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya “mengetahui laporan” tentang penahanannya, tetapi menolak untuk memberikan perincian, dengan alasan pertimbangan privasi.

Menurut Ghasemi, laporan di media AS bahwa White ditahan dalam kondisi yang buruk adalah “keliru dan tidak akurat”.

“Kasus ini sedang ditangani oleh pihak berwenang terkait dan pada akhir proses ini mereka akan mengeluarkan informasi yang diperlukan,” Ghasemi lebih lanjut dikutip mengatakan pada akun Telegram-nya, seperti disitir dari Al Jazeera, Kamis, 10 Januari 2019.

White bergabung dengan setidaknya tiga warga AS lainnya, dua dari mereka keturunan Iran, ditahan di Iran. Pada Juli 2017, Iran mengatakan bahwa mereka sudah menahan warga keturunan Tiongkok-Amerika, Xiyue Wang, mahasiswa pascasarjana Princeton yang sedang melakukan penelitian di Iran.

Sejak Oktober 2015, mereka juga menangkap Namazi yang blasteran Iran-Amerika. Ayah Namazi, Baquer, mantan diplomat 82 tahun untuk Badan Anak PBB (UNICEF), juga ditahan. Keduanya adalah warga negara Amerika yang dinaturalisasi. Pada 2007, mantan agen FBI, Robert Levinson, hilang di Iran.

Masalah tahanan sejak lama menambah ketegangan antara Iran dan AS. Terakhir kali Iran membebaskan warga Amerika yang dipenjara adalah ketika kesepakatan internasional tentang program nuklir Iran berlaku pada Januari 2016.

Iran membebaskan empat orang Amerika, termasuk Jason Rezaian, mantan koresponden untuk Washington Post. Sebagai gantinya, AS membebaskan beberapa warga Iran yang ditahan atas pelanggaran sanksi.

Hubungan antara Iran dan AS memburuk tajam tahun lalu ketika Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir dan memberlakukan kembali sanksi menyeluruh terhadap Iran.

(FJR)

Jadi Mata-mata Iran, Mantan Menteri Israel Dibui

Ilustrasi oleh Medcom.id.

Tel Aviv: Mantan menteri Israel akan menghabiskan 11 tahun penjara setelah mengaku menjadi mata-mata untuk Iran. Gonan Segev mengakui tuduhan melakukan spionase dan memberikan informasi kepada pihak musuh.

Segev menjabat sebagai menteri energi di bawah mantan perdana menteri Yitzhak Rabin pada pertengahan 1990-an. Ia sebelumnya dipenjara karena mencoba menyelundupkan narkotika ekstasi ke negara itu.

Dia diekstradisi dari Guyana Khatulistiwa dan ditangkap di Israel Mei lalu dengan tuduhan bertindak sebagai agen intelijen Iran. Dalam aksinya, dia memberi informasi tentang “pasar energi dan situs keamanan di Israel”.

Shin Bet, dinas keamanan Israel, awalnya mengatakan Segev telah bertemu dengan operatornya dua kali di Iran dan dengan agen Iran di hotel dan apartemen di berbagai penjuru dunia.

Sebuah perintah mendadak dikeluarkan atas sebagian besar detail tersebut. Tetapi Menteri Kehakiman Israel mengatakan hukuman 11 tahun telah disepakati.

Israel menganggap Iran sebagai ancaman terbesar, seraya menyebut seruan Iran untuk penghancuran Israel, dukungannya bagi sejumlah kelompok seperti Hizbullah dan pengembangan rudal jarak jauh.

Israel sudah melakukan beragam serangan udara terhadap pasukan Iran di Suriah baru-baru ini. Pada Agustus, menteri intelijen Iran mengungkapkan di televisi pemerintah tentang direkrutnya seorang mantan pejabat tingkat kabinet dari negara ‘seteru’, tetapi tidak menyebut Israel atau Segev.

Tim pengacara Segev mengatakan mereka tidak bisa membahas semua detail kasus itu, tetapi termasuk dalam kesepakatan pembelaannya adalah penghapusan tuduhan pengkhianatan.

“Memang, Segev memiliki kontak dengan Iran tetapi motifnya bukan untuk ‘membantu musuh selama perang’,” mereka menambahkan, seperti dikutip dari laman Sky News, Rabu 9 Januari 2019. 

Segev ditangkap pada 2004 karena berusaha menyelundupkan 32.000 tablet ekstasi dari Belanda ke Israel menggunakan paspor diplomatik yang sudah kadaluwarsa.

Dia juga dulunya seorang dokter dan dicabut izin medisnya. Dia dibebaskan dari penjara di Israel pada 2007 dan tinggal di Afrika baru-baru ini.

(FJR)

KJRI Jeddah Pulangkan 13 TKI Bermasalah dari Shelter

Jeddah: Sebanyak 13 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tertahan di shelter telah diselesaikan kasusnya oleh KJRI Jeddah. Shelter menjadi tempat tinggal mereka sementara sambil menunggu penyelesaian kasusnya.

13 TKItersebut telah dipulangkan, sembilan diantaranya dikawal langsung oleh petugas dari KJRI Jeddah pada 7 Januari 2019.

Berbagai macam masalah dialami 13 TKI ini, antara lain tidak digaji, tidak dipulangkan hingga belasan tahun, mendapat perlakuan kasar dari pihak majikan, korban perdagangan orang hingga fitnah majikan yang berujung pemenjaraan.

Sejak Pemerintah Indonesia memberlakukan moratorium pengiriman TKI pada awal 2011 lalu ke Arab Saudi, kasus penyanderaan TKI oleh majikan, makin marak. Hal ini terjadi pada TKI berinisial NST.

Perempuan berusia 44 tahun ini menjadi korban perdagangan orang. Ia diberangkatkan ke Arab Saudi menggunakan visa ziarah dalam kondisi mental yang kurang siap untuk bekerja.

Baca: Kemenlu: Moratorium TKI ke Arab Saudi Masih Terus Berlaku

“Masih banyak persoalan TKI, khususnya yang menimpa wanita yang bekerja di sektor rumah tangga. Sebagian telah berhasil diselesaikan, sebagian lagi masih kami perjuangkan,” kata Konjen RI untuk Jeddah Mohamad Hery Saripudin kepada Medcom.id, Kamis 10 Januari 2019.

Hery menambahkan, perkembangan setiap kasus selalu dilaporkan ke instansi berwenang di Jakarta dan pemerintah daerah agar menjadi perhatian bersama.

“Kepedulian bersama dari para pemangku otoritas akan memberikan jaminan perlindungan yang lebih bagi para TKI, sehingga angka permasalahan yang menimpa mereka bisa ditekan,” lanjut dia.

Hery juga menyesalkan masih maraknya penempatan TKI secara non-prosedural meskipun telah dilakukan penandatanganan joint statement antara Menteri Perburuhan Arab Saudi dan Menteri Tenaga Kerja RI.

“Belakangan marak WNI teruma kaum perempuan yang diberangkatkan dengan visa ziarah. Dari sini kita perlunya harus lebih hati-hati lagi terhadap praktek penyamaran pengiriman tenaga kerja dengan berpura-pura ziarah atau kunjungan wisata,” tutur Hery.

Hery berharap agar aparat berwenang melakukan penegakan hukum kepada para pelaku penempatan TKI secara non-prosedural yang kadang mengabaikan sisi kemanusiaan.

(FJR)

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke Iran atas Plot Pembunuhan

Menlu Belanda Stef Blok dalam kunjungan ke Irak, 18 Desember 2018. (Foto: AFP/SAFIN HAMED)

Brussels: Uni Eropa mengumumkan penjatuhan sanksi kepada sebuah unit di agensi intelijen Iran dan dua orang atas dugaan keterlibatan mereka dalam berbagai plot pembunuhan.

Pengumuman sanksi membuat unit dan dua orang tersebut masuk dalam daftar teror UE. Mereka dituduh telah melancarkan beberapa serangan terhadap tokoh oposisi Iran di Denmark dan Prancis.

Selain masuk daftar teror, mereka yang terkena sanksi juga akan dibekukan beberapa asetnya, dan juga terkena sejumlah larangan lain.

Menteri Luar Negeri Stef Blok mengatakan bahwa dinas rahasia Amsterdam memiliki “dugaan kuat” bahwa Iran terlibat dalam pembunuhan beberapa warga Belanda di Almere pada 2015 dan Den Haag dua tahun setelahnya.

“UE dan Belanda mengambil langkah keras terhadap intervensi Iran di Eropa. Penjatuhan sanksi ini mengiriman pesan jelas bahwa perilaku semacam itu tidak dapat diterima dan harus dihentikan secepatnya,” tulis Blok di Twitter, seperti disitir dari laman UPI, Selasa 8 Januari 2019.

Iran membantah keterlibatan dalam sejumlah serangan tersebut. Menlu Iran Javad Zarif justru balik membantah bahwa Belanda, Denmark dan Prancis telah menyembunyikan beberapa grup teroris yang menyerang Teheran.

“Menuduh Iran tidak akan melepaskan tanggung jawab Eropa yang melindungi para teroris,” ucap Zarif.

Serangkaian sanksi ini merupakan kali pertama dijatuhkan UE ke Iran sejak perjanjian nuklir disepakati tiga tahun lalu.

Menlu Amerika Serikat Mike Pompeo menuliskan dukungan untuk UE di Twitter. “Dengan mengambil langkah seperti ini, negara-negara Eropa telah mengirim pesan kuat kepada Iran bahwa terorisme tidak dapat diberikan toleransi,” tulis Pompeo.

(WIL)

Konsulat di Australia Dievakuasi atas ‘Paket Mencurigakan’

Petugas bersiaga di area Konsulat Italia di Melbourne, Australia, 9 Januari 2019. (Foto: AFP/WILLIAM WEST)

Canberra: Sejumlah konsulat dan kedutaan besar di Melbourne serta Canberra dievakuasi setelah Kepolisian Australia menemukan beberapa paket mencurigakan. Di Melbourne, paket mencurigakan itu ditemukan di Konsulat Jenderal Inggris dan juga Amerika Serikat.

Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris (FCO) mengatakan paket serupa ditemukan di beberapa konsulat serta kedubes Jerman, India, Selandia Baru, Korea, Yunani, Mesir dan Swiss di Melbourne.

Sementara di ibu kota, Canberra, polisi juga menemukan paket mencurigakan di beberapa konsulat jenderal. Menurut situs Vic Emergency, Brigade Pemadam Kebakaran Metropolitan Melbourne (MFB) telah menerima laporan adanya “material berbahaya” di 16 situs.

“Kami membantu Kepolisian Federal Australia (AFP) menangani sejumlah insiden di Melbourne,” ujar juru bicara brigade, seperti disitat dari laman Sky News, Rabu 9 Januari 2019.

Jubir AFP menyebut, “polisi dan badan layanan darurat sedang merespons paket mencurigakan yang dikirim ke beberapa Kedutaan dan Konsulat di Canberra serta Melbourne hari ini. Insiden ini sedang diselidiki.”

Tim medis dan petugas pemadam terlihat memasuki kedubes Korea dengan mengenakan baju pelindung bahan kimia. Sementara mobil pemadam terlihat terparkir di beberapa konsulat.

Sebagian besar konsulat asing di Australia berada di Jalan St Kilda dan pusat kota.

(WIL)

Tabrakan Kereta di Afrika Selatan Tewaskan Tiga Orang

Ilustrasi kecelakaan kereta api. (Foto: Medcom.id)

Pretoria: Tabrakan dua kereta api di jam berangkat kerja di kota Pretoria, Afrika Selatan, Selasa 8 Januari 2019, menewaskan tiga orang dan melukai ratusan lainnya. Dua korban yang terluka parah diterbangkan dari lokasi di Mountain View ke rumah sakit terdekat.

Total 641 orang terluka dalam kecelakaan, dengan 11 luka parah dan 62 level “menengah” hingga ringan.

“Jumlah korban tewas sejauh ini tiga orang, tapi masih bisa terus bertambah,” kata juru bicara otoritas urusan darurat Pretoria, Charls Mabaso, kepada kantor berita AFP.

Saat tim medis tiba di lokasi, beberapa gerbong dari kedua kereta terguling dan keluar dari rel. “Sejumlah penumpang ditemukan di dalam kereta, dan ada juga yang sudah berjalan di sekitar lokasi,” kata Russel Meiring, jubir unit gawat darurat ER24.

Hingga saat ini penyebab pasti kecelakaan belum diketahui.

Kecelakaan kereta api merupakan hal biasa di Afsel. Setahun lalu, sebuah kereta api yang melaju dari kota Port Elizabeth menuju Johannesburg menabrak sebuah truk di perlintasan dekat Kroonstad. 

Tragedi tersebut menewaskan 19 orang dan melukai 254 lainya. Data Regulator Keamanan Kereta Api Afsel mencatat 495 orang tewas dalam berbagai kecelakaan kereta api dalam periode 2016-2017. Angka tersebut naik delapan persen dari periode sebelumnya.

(WIL)