Felix Tshisekedi Pimpin Oposisi Menang Pemilu Kongo

Kinshaha: Felix Tshisekedi, pemimpin partai oposisi terkemuka Republik Demokratik Kongo, dinyatakan sebagai pemenang kejutan pemilihan presiden 30 Desember di negara Afrika tengah.

Hasilnya, diumumkan pada Kamis pagi 10 Januari, berarti transfer kekuasaan melalui pemilu pertama dalam 59 tahun kemerdekaan di Republik Demokratik Kongo.

Kemenangan ini mengejutkan banyak pengamat yang yakin pihak berwenang akan memastikan kandidat pemerintah, Emmanuel Ramazani Shadary, menjadi pemenang dalam pemilu, yang ketiga sejak berakhirnya perang saudara berdarah pada 2002.

“Hormat kepada Kabila. Seorang mitra penting dalam transisi demokrasi di negara kita. Saya akan menjadi presiden dari segenap rakyat Kongo,” ujar Tshisekedi.

Kemenangan Tshisekedi sangat kontroversial karena jajak pendapat pra-pemilu telah memberikan keunggulan bagi kandidat terdepan yang vokal, Martin Fayulu, seorang mantan eksekutif bisnis yang dihormati.

Perolehan suara menempatkan Fayulu dengan 47 persen, setidaknya 20 poin unggul dari Tshisekedi. Penghitungan suara yang dikumpulkan oleh gereja Katolik Kongo mendapati Fayulu menang telak dalam pemilu.

Para pendukung Fayulu khawatir presiden yang akan tergantikan, Joseph Kabila, mendukung hasil pemungutan suara yang memenangkan calon yang dipilihnya sendiri, atau melakukan kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Tshisekedi, kepala partai oposisi utama. Fayulu sendiri langsung menolak hasil pemilu.

“Dari mana asal tujuh juta suara tambahan (untuk kemenangan Tshisekedi)? Pada 2019 ini, kita menolak kemenangan rakyat dicuri sekali lagi,” katanya, seperti dikutip dari Guardian, Kamis, 10 Januari 2019.

Polisi antihuru-hara dikerahkan di luar kantor komisi pemilu RD Kongo dan di berbagai lokasi lain di ibu kota, Kinshasa.

Sekretaris Jenderal Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan dia ‘mencatat’ pengumuman itu dan mendesak semua pihak agar ‘menahan diri dari kekerasan dan untuk menyalurkan sengketa pemilu melalui mekanisme kelembagaan yang sudah ada.’

Oposisi dilemahkan oleh argumen internal dan dikecualikan oleh komisi pemilu dari dua tokoh politik kelas berat: Jean-Pierre Bemba, mantan panglima perang, dan Moise Katumbi, seorang taipan populer.

Ayah Tshisekedi, Etienne, adalah pemimpin oposisi terkenal di bawah Mobutu. Dia meninggal tahun lalu dan putranya mewarisi partaianya, dan dengan itu ada peluang memenangkan kekuasaan. Para kritikus mengatakan Tshisekedi, 55, tidak terbukti, tidak berpengalaman, dan tidak memiliki karisma ayahnya.

Setelah pemilu tertunda dua tahun, pengumuman hasil suara tertunda lebih dari sepekan untuk memberikan lebih banyak waktu mengatasi tantangan logistik di negara dengan 80 juta penduduk. Para pemilih tersebar di wilayah seluas Eropa Barat dengan hampir tidak ada jalan beraspal.

Mandat jabatan kedua Kabila berakhir pada 2016 dan dia dengan enggan menyebut pemilu baru di bawah tekanan dari kekuatan regional. Konstitusi melarang dia mencalonkan diri lagi dan para kritikus mengklaim dia berharap untuk memerintah melalui Shadary, yang tidak memiliki basis politik sendiri.

Gereja Katolik Roma adalah institusi yang berwibawa di negara ini, dan dalam deklarasi bersama dengan sekelompok gereja Protestan dan misi pengamat pemilu, Symocel, konferensi para uskup Katolik menyerukan agar tenang dan menuntut agar dewan pemilihan Kongo, CENI, menerbitkan ‘hanya hasil yang keluar dari kotak suara’.

Pengamat pemilu domestik mengaku menyaksikan penyimpangan serius pada hari pemilu dan selama penghitungan suara, meskipun misi pengamat daerah mengatakan pemilu berjalan ‘relatif baik’.

Kabila, 47, memerintah sejak pembunuhan ayahnya pada tahun 2001, Laurent Kabila, yang menggulingkan diktator Mobutu Sese Seko yang menjabat sejak 1997.

Tshisekedi menjadi pemimpin pertama yang mengambil alih kekuasaan melalui kotak suara di RD Kongo sejak perdana menteri Patrice Lumumba tak lama sesudah negara itu memproklamasikan kemerdekaannya dari Belgia pada 1960. Lumumba digulingkan dalam sebuah kudeta dan terbunuh empat bulan kemudian.

Kongo menderita korupsi yang meluas, konflik berkepanjangan, penyakit endemik, dan beberapa tingkat kekerasan seksual, dan kekurangan gizi tertinggi di dunia. Negeri ini juga kaya akan mineral, termasuk material yang penting untuk ponsel dan mobil listrik dunia.

(FJR)