General Motors gelar sayembara penamaan sepeda listrik terbaru

General Motors (GM) menggelar sayembara pemberian nama untuk produk sepeda listrik terbaru yang tengah mereka kembangkan.

Perusahaan otomotif yang bermarkas di Amerika Serikat itu mengajak masyarakat terlibat aktif menyumbang nama yang tepat lewat situs eBikeBrandChallenge.

“Kami ingin memperluas pemikiran melampaui dinding perusahaan dan mendengar dari orang-orang yang memiliki ide cemerlang,” ujar direktur General Motors Urban Mobility Solution, Hannah Parish dalam pernyataan resminya, Jumat (2/11).

Peserta dengan usulan nama terbaik berhak mendapatkan hadiah sebesar 10.000 dolar AS. Sedangkan sembilan peserta terpilih lainnya akan mendapatkan hadiah masing-masing 1.000 dolar AS.

Baca juga: GM tarik mobil patroli kepolisian hingga pickup karena masalah rem

Sayembara akan berlangsung hingga 26 November 2018 mendatang. Adapun pengumuman pemenang akan dilangsungkan pada awal tahun 2019.

General Motors SBOBET mengembangkan sepeda listrik sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan tentang teknologi serba listrik.

Hannah mengatakan sepeda listrik yang dikembangkan dibuat dengan menggabungkan teknologi elektrifikasi yang revolusioner, desain terbaik, dan pengujian setara kelas otomotif dengan pemikiran-pemikiran hebat dari pelaku industri sepeda.

Nantinya, sepeda tersebut akan tersedia dalam dua model, yakni model frame tetap dan frame yang dapat dilipat.

Hyundai Motor akan mendirikan ‘Dana Energi Hidrogen’ dengan lembaga di Cina

Jakarta (ANTARA News) – Hyundai Motor hari ini menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Institut Litbang Industri Beijing-Tsinghua (BTIRDI) untuk bersama-sama membentuk ‘Dana Energi Hidrogen’.

Berdasarkan perjanjian ini, produsen Korea Selatan itu dan mitranya dari Cina berharap untuk memperkuat pengaruh mereka dalam ekosistem hidrogen sambil mempercepat munculnya ‘Masyarakat Hidrogen’.

The Hydrogen Energy Fund akan dioperasikan bersama oleh Hyundai Motor dan Yield Capital, firma investasi BTIRDI, dengan tujuan untuk meningkatkan total hingga 100 juta dolar AS atau setara Rp1,5 miliar lebih. Dana tersebut bertujuan untuk menarik investasi dari perusahaan-perusahaan modal ventura terkemuka yang berbasis di Cina, Eropa, dan AS.

Seperti dikutip laman resmi Hyundia pada Selasa waktu setempat, tujuan utama inisiatif binasional adalah untuk memacu investasi dalam industri hidrogen dan rantai nilai sambil juga mendorong pertumbuhan startup yang menjanjikan di China dan Korea. Lebih khusus lagi, dana tersebut akan mencari perusahaan inovatif yang memiliki berbagai infrastruktur dan kepemimpinan terkait teknologi hidrogen. Kemitraan ini akan memanfaatkan keahlian kolektifnya dalam teknologi hidrogen untuk melakukan analisis terperinci tentang potensi pertumbuhan calon investor di masa depan, untuk membuat investasi terbaik yang akan menguntungkan seluruh industri dan ekosistem.

Kontribusi Dana Industri Energi Hidrogen SBOBET Indonesia tidak akan terbatas pada investasi ekuitas semata, tetapi akan melibatkan dukungan aktif dan sistematis berdasarkan program inkubasi masing-masing anggota dan strategi perusahaan modal ventura (CVC).

“Kami senang mengumumkan pembentukan Dana Energi Hidrogen dengan Institut Litbang Industri Beijing-Tsinghua,” kata Wakil Presiden Eksekutif di Hyundai Motor Group (China) Ltd. Hsiu Fu Wang.

“Kolaborasi ini merupakan langkah pertama yang penting dalam memajukan ekosistem hidrogen global dan landasan kepercayaan kami yang kuat akan menghadirkan banyak peluang pertumbuhan untuk kemitraan,” tambahnya

Baca juga: Hyundai Kona 2018 terbaik menurut TAWA

Untuk Hyundai Motor, pembentukan Dana Industri Energi Hidrogen diharapkan dapat membuka jalan bagi peluang bisnis baru terkait hidrogen di China. Secara khusus, kerja sama Sino-Korea akan meletakkan fondasi yang kuat bagi Hyundai Motor untuk terjun ke pasar kendaraan sel bahan bakar listrik Cina (FCEV) di masa depan.

“Hyundai Motor memiliki teknologi FCEV terkemuka di industri yang akan kami manfaatkan untuk mendapatkan pijakan di ekosistem hidrogen China,” kata Wakil Direktur Dewan Sekolah Universitas Tsinghua, Zongkai Shi.

Hidrogen muncul sebagai pilar utama untuk pertumbuhan masa depan di Cina. Pada bulan Februari, Aliansi Nasional Cina Hidrogen dan Fuel Cell (China Hydrogen Alliance) secara resmi diluncurkan untuk mempercepat penyebaran hidrogen di Cina dan mempromosikan pembangunan masyarakat hidrogen di negara tersebut. Pemerintah Cina juga menargetkan pengerahan besar-besaran satu juta FCEV dan seribu stasiun isi ulang pada tahun 2030.

Baca juga: Hyundai luncurkan model i30 N Line di Korea Selatan

Baca juga: Ford Series 1 Mustang RTR siap ke dealer tahun depan

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2018

BMW sediakan BMW i Wallbox Plus di Pertamina Green Energy Station

Jakarta (ANTARA News) – Pertamina meluncurkan pilot project dari Green Energy Station (GES) di SPBU Kuningan Pertamina dengan stasiun pengisian energi untuk kendaraan listrik, Senin.

Satu charging station disediakan bekerja sama dengan BMW Group Indonesia dalam bentuk BMW i Wallbox Plus yang diinstal dengan konfigurasi 3 phase 22kW dan dapat diaktifkan dengan teknologi RFID.

Inisiatif ini digagas Pertamina dengan adanya pergeseran global dunia otomotif dari Internal Combustion Engine menjadi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Electric Vehicle (EV). BMW Group Indonesia sendiri adalah perusahaan pertama di Indonesia yang menjual kendaraan PHEV sejak tahun 2016 melalui peluncuran BMW i8 di GIIAS 2016.
 
“Untuk mendorong kesiapan kendaraan listrik, BMW Group Indonesia berikan dukungan kepada Pertamina melalui informasi mendalam seputar teknologi kendaraan listrik, pengalaman BMW Group dalam mengimplementasikan charging grid di negara lain, uji coba manfaat dan biaya operasional kendaraan listrik, hingga menyediakan BMW i Wallbox Plus di Pertamina Green Energy Station,” kata Ramesh Divyanathan selaku President Director BMW Group Indonesia.

Ia menambahkan, secara global BMW telah mengembangkan jaringan pengisian energi kendaraan listrik di lebih dari 30 negara dan 120.000 titik di seluruh dunia.

“Di Indonesia sendiri, selain telah menghadirkan kendaraan sports ikonik Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) seperti BMW i8 Coupe dan BMW i8 Roadster, hingga saat ini BMW telah miliki dua dealer yang mendukung layanan aftersales dan service kendaraan listrik yaitu BMW Astra Serpong dan BMW Tunas Tebet,” tambah Ramesh dalam keterangan tertulisnya.
 
BMW i Wallbox Plus merupakan alat pengisian standar yang disediakan untuk pemilik BMW i dan iPerformance kedepannya. Seluruh pelanggan yang membeli BMW i8 Coupe dan BMW i8 Roadster akan mendapatkan BMW i Wallbox Plus dan juga proses instalasi di rumah dengan supervisi dan biaya yang ditanggung BMW Group Indonesia.

Instalasi charging station ini sendiri dapat disesuaikan dengan kapasitas listrik rumah dan kebutuhan kendaraan melalui konfigurasi 1 phase 7,4kW hingga 3 phase 22kW.
 
BMW i Wallbox Plus generasi terbaru memiliki dimensi yang 40 persen lebih kompak dan waktu pengisian kembali 70 persen lebih cepat dibandingkan pendahulunya, dan memiliki fitur keamanan tambahan dengan penggunaan teknologi RFID (Radio Frequency Identification) untuk aktivasi.

Baca juga: Mobil listrik mewah penantang Tesla
 
Masa depan mobilitas elektrik

BMW i merupakan sub brand BMW yang fokus pada kendaraan listrik dengan prinsip berkelanjutan pada keseluruhan rantai nilai, dan pemahaman baru akan istilah premium yang didefinisikan secara tepat dari aspek berkelanjutan.

Secara global BMW memiliki BMW i3 dan BMW i8 untuk ditawarkan kepada pelanggannya. Model pertama BMW i yang diperkenalkan di Indonesia adalah BMW i8 – the Most Progressive Sports Car di tahun 2016.

Dilanjutkan dengan First-ever BMW i8 Roadster yang diperkenalkan pada pembukaan GIIAS 2018. First-ever BMW i8 Roadster menggabungkan semua kelebihan dari BMW i8 dengan sensasi kenikmatan berkendara dengan atap terbuka. BMW i8 Roadster memberikan sensasi kebebasan yang belum pernah ada yaitu mengendarai roadster tanpa suara bising, dan bebas emisi.

Sports car mutakhir ini menggabungkan sistem plug-in hybrid dengan kabin penumpang yang terbuat dari carbon-fibre-reinforced plastic (CFRP) dan kerangka aluminium untuk mesin dan motor listrik, baterai serta suspensi. Hasilnya adalah sebuah sport car yang ringan, menawan dan sangat efisien yang menawarkan kombinasi performa dan efisiensi yang tak ada tandingannya.
 
Produksi jajaran kendaraan BMW i tetapkan standar dalam penggunaan materi-materi inovatif, konservasi sumber daya, dan industrialisasi mobilitas elektrik. Meskipun demikian, konsep produksi yang digunakan juga revolusioner.

Arsitektur kendaraan BMW i, dengan modul LifeDrive dan ruang penumpang berbahan serat karbon dari modul Life, memungkinkan proses produksi yang inovatif tanpa melalui tahapan produksi klasik yang dilakukan di bengkel cetak dan cat.

Bahkan, proses manufaktur BMW i pun unik, teknik penyatuan yang canggih sebagai ganti dari metode produksi yang biasa dipakai. Metode ini mempermudah tugas para pekerja. Arsitektur baru ini menghasilkan proses yang ergonomis dan perakitan yang lebih senyap, dan ruangan produksi pun dipenuhi dengan pencahayaan alami.
 
BMW iPerformance merupakan brand yang menaungi semua kendaraan plug-in hybrid BMW. Sampai dengan saat ini, secara global BMW memiliki 5 jenis kendaraan BMW iPerformance untuk ditawarkan kepada konsumen yaitu BMW 740Le iPerformance, BMW 530e iPerformance, BMW 330e iPerformance, BMW 225xe iPerformance, dan BMW X5 xDrive40e iPerformance. BMW Group berkomitmen untuk meluncurkan setidaknya 25 kendaraan listrik di tahun 2025.
 
Angka penjualan global menunjukkan bahwa BMW Group memimpin pasar kendaraan roda empat dengan sistem penggerak listrik. Hingga akhir tahun 2017, lebih dari 100.000 unit kendaraan listrik dan plug-in-hybrid telah dikirimkan kepada pelanggan di seluruh dunia. Tahun ini korporasi menargetkan 140.000 unit di seluruh dunia.

Baca juga: BMW pertimbangkan mobil hybrid yang bisa diubah ke mode listrik

Baca juga: Pertamina gandeng Himbara permudah transaksi SPBU-SPLU

Penerjemah: Monalisa
Copyright © ANTARA 2018

Pertamina diminta temukan teknologi “fast charging” untuk mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta kepada PT Pertamina untuk menemukan atau mencari teknologi fast charging di bawah 10 menit. 

“Saya rasa sudah ada itu teknologinya, tinggal dicari saja dan disesuaikan, biar tidak kelamaan kalau ngisi mobil listrik, ” kata Jonan di Jakarta, Senin. 

Ia menyatakan teknologi pengisian listrik di Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) milik Pertamina sudah baik,  hanya saja waktu sekitar 20 menit untuk pengisian penuh masih dirasa lama. 

Jonan juga menjelaskan beralihnya dunia otomotif global dari Internal Combustion Engine (ICE) ke Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Electric Vehicles (EV) diprediksi akan mengakibatkan pengisian baterai kendaran jenis PHEV dan EV akan menjadi substitusi bagi pengisian fuel (bahan bakar minyak/BBM) kendaraan yang saat ini merupakan bisnis Pertamina.

Di masa mendatang, Menteri ESDM mengungkapkan, mobil listrik akan bersaing dengan kendaraan combustion engine. “Mobil listrik akan menjadi masa depan dunia, energi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
 
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan Pertamina siap menghadapi disruption business dari kendaraan konvensional berbahan bakar minyak ke arah kendaran listrik. Pertamina akan menghadirkan fasilitas pengisian listrik untuk kendaraan listrik dalam rangka mengembangan Ekosistem Bisnis Kendaraan Listrik kedepan.

Dia menjelaskan konsep utama Green Energy Station (GES) memiliki tiga konsep. Konsep Pertama, Konsep Green yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area SPBU yang dimiliki. Kedua, Konsep Future yang memiliki EV Charging Station. 

Serta ketiga, Konsep Digital yaitu MyPertamina yang menjadikan pembayaran di SPBU cashless serta adanya self-service. “Ke depan GES diproyeksikan akan menjadi tempat untuk pengisian baterai EV serta tempat untuk swapping baterai yang didedikasikan untuk sepeda motor listrik kecil,” ujar Nicke.
 
Saat ini pilot project GES telah hadir menjawab tantangan tersebut. Di SPBU ini telah terpasang empat unit charging station di mana dua unit merupakan tipe fast charging yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan dua unit merupakan tipe normal charging

Dalam pengembangan konsep tersebut, Pertamina mendapatkan dukungan penuh dari berbagai sektor mulai dari pemerintah melalui Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, serta sinergi BUMN dengan Telkom dan PLN, Lembaga Pendidikan melalui UI dan pelaku bisnis kendaraan listrik BMW, Toyota, Mitsubishi, dan Gesits serta pelaku bisnis charging station Bosch. 

“Seluruh pihak berada dalam satu visi yang sama untuk menghadirkan suatu ekosistem energi masa depan terbaik untuk Indonesia,” tambah Nicke.
 
GES diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan ritel Pertamina melalui sistem yang cepat dan handal. Kecepatan tersebut didukung dengan sistem digitalisasi SPBU melalui standarisasi POS System dan cashless payment melalui MyPertamina. 

Pertamina telah bersinergi dengan Telkom dalam menghadirkan konsep cashless payment MyPertamina dan dashboard monitoring system untuk mempermudah Management maupun stakeholder terkait untuk memantau secara langsung penjualan yang terjadi di setiap titik SPBU.
 
Pada SPBU GES nantinya juga akan disediakan fasilitas swapping battery untuk menjawab kebutuhan motor listrik. Saat ini Pertamina telah bekerja sama denga GESITS untuk pengembangan motor listrik.

Baca juga: Jonan resmikan stasiun pengisian listrik umum pertama 

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2018

Honda akan pasarkan PCX listrik di Asia Tenggara

Jakarta (ANTARA News) – Honda mengumumkan akan segera memasarkan motor matic PCX listrik di Asia Tenggara, dengan penjualan untuk pelanggan bisnis maupun perorangan diawali dari Filipina.

Tidak seperti model-model lainnya, PCX ELECTRIC ini dipasarkan dengan skema penjualan sewa baik untuk pelanggan bisnis maupun perorangan.

PCX ELECTRIC dikembangkan berdasarkan PCX yang populer berdesain stylish, dengan mesin yang lebih ramah lingkungan berkat unit daya listrik kompak baru yang dikembangkan Honda, kata Honda dalam pernyataan resminya, dikutip Minggu.

Honda mengatakan, motor listrik PCX ini menggunakan Struktur Interior Permanen Magnet (IPM) yang menyediakan torsi yang cukup dari revs rendah, mewujudkan kinerja akselerasi dan menanjak yang kuat dan halus.

Dengan baterai listrik yang digendongnya, PCX ELECTRIC, yang menyasar pengguna perkotaan dan butuh kenyamanan, mampu menempuh perjalanan 41km untuk satu kali isi daya baterai penuh.

Baterai PCX ELECTRIC bisa diisi daya dengan menggunakan konektor yang sudah disediakan atau dengan charger eksternal opsional.

Sepeda motor dengan kapasitas 125cc ini akan disewakan di resor wisata di distrik Tokyo mulai musim semi 2019, dengan penggunaan akan terus dipantau Honda guna mendapatkan banyak masukan dari konsumen.

Kendaraan listrik yang dilengkapi dengan baterai berkapasitas total 96V yang terbagi dalam dua baterai lithium-ion 48V high-energy ini akan diproduksi untuk pasar domestik dalam jumlah 250 unit setahun. Masih sangat terbatas.

Untuk satu kali pengisian daya, baterai PCX ELECTRIC membutuhkan waktu enam jam untuk terisi penuh saat terhubung dengan kendaraan, sementara jika diisi dengan charger opsional—dengan baterai dicopot dari kendaraan—akan memakan waktu sekitar empat jam.

Baca juga: AHM optimistis pasar hybrid berkembang di Indonesia

Pewarta: Suryanto
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2018

Mobil listrik mewah penantang Tesla

Los Angeles (ANTARA News) – Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Tesla, kini bukanlah satu-satunya produsen yang mampu memproduksi mobil listrik di segmen mewah, karena sejumlah model dari pabrikan lain pun bermunculan.

Pada pameran Los Angeles Auto Show 2018 yang digelar hingga Minggu, sejumlah merek mobil ternama antara lain Audi, BMW dan Volkswagen, maupun jenama baru seperti Rivian dan Byton hadir untuk memamerkan teknologi kendaraan listriknya, dilansir USA Today, Sabtu (8/12).

Kendati demikian, pengamat otomotif menilai Tesla tetap menjadi unggulan dalam industri otomotif ramah lingkungan karena produsen yang memiliki pabrik bernama Gigafactory itu hanya fokus menggarap segmen mobil listrik.

“Tidak ada yang bisa membunuh Tesla. Mereka tangguh, meskipun Anda tidak mempercayainya,” kata Ron Cogan dari Green Car Journal.

“Ada banyak diskusi mengenai penantang Tesla,” kata Jessica Caldwell, analis dari Edmunds.com, menambahkan bahwa para penantang memiliki tugas berat untuk menyaingi Tesla.

“Mereka selalu menjadi topik pembicaraan. Sulit bagi merek-merek lain untuk melawan itu,” katanya.

Berikut mobil listrik pesaing Telsa:

Audi e-tron GT

Pabrikan mobil mewah Jerman, Audi, memperkenalkan SUV e-tron GT dengan tampilan elegan dan motor listrik yang kuat.

Motor listrik e-tron GT menghasilkan 590 tenaga kuda, dengan akselerasi hanya 3,5 detik untuk mencapai kecepatan dari 0 sampai 100 kilometer per jam.

Mobil ini diperkirakan akan masuk dapur produksi pada dua tahun mendatang, tergantung minat konsumen terhadap mobil bermodel empat pintu ini. Audi juga berencana menawarkan 12 kendaraan listrik di pasar dunia pada 2025. Audi e-Tron (Audi Pressroom)

BMW Vision iNEXT

Pabrikan mobil mewah lainnya, BMW, juga memperkenalkan mobil listrik dengan model SUV yang dinilai memiliki desain unik.

BMW Vision iNEXT memiliki tampilan wajah yang besar namun terlihat futuristik dengan model lampu dan grille, dilengkapi roda kemudi bergaya kokpit pesawat.

Selain sebagai mobil listrik, BMW Vision iNEXT juga digadang-gadang sebagai kendaraan swakemudi

“BMW Vision iNEXT menghadirkan era baru kesenangan berkendara,” kata pimpinan BMW Harald Kruger. “Ini menggarisbawahi peran utama yang dimainkan Jerman di masa depan mobilitas.”
  BMW Vision iNEXT. (BMW Global Press)

Volkswagen I.D.Buzz Cargo

Hadir di pameran kendaraan ini, Volkswagen membawa beberapa inovasi terbarunya untuk sektor teknologi, salah satunya adalah van konsep I.D. Buzz Cargo.

VW mengatakan, van yang masih dalam bentuk kendaraan konsep ini didesain untuk perusahaan atau pebisnis yang melayani pelanggan di perkotaan, baik itu untuk pelayanan pemeliharaan atau pengantaran barang pesanan.

I.D. Buzz dilengkapi konektivitas dengan unit kontrol fungsional. Pekerjaan dan pemesanan dari pelanggan dapat diimplementasikan dengan cara ini.

Semua barang dalam rak di mobil ini bisa dilacak. Semua pintu mobil bisa dibuka secara elektrik, dan sistem rak dapat dikustomisasi. Volkswagen I.D Buzz Concept (http://newsroom.vw.com/)

Byton K-Byte

Perusahaan otomotif China, Byton, mengandalkan konsep mobil listrik jenis SUV yang diberi nama Byton K-Byte. Mobil ini tidak sekadar berpenggerak listrik, namun mengusung teknologi semi swakemudi, sebagai langkah awal menuju era mobil otonom.

Mobil ini memanfaatkan tampilan layar pada dashboard untuk memberikan berbagai informasi kepada pengemudi atau penumpang.

Byton setidaknya telah memiliki tiga model kendaraan listrik antara lain bermodel sedan, SUV K-Byte dan M-Byte yang menggunakan elemen digital untuk digerakkan melalui sistem kecerdasan artifisial (AI).
  M-Byte mobil listrik jenis SUV buatan China yang akan mengawali debutnya di Los Angeles Auto Show 2018. (Istimewa)

Rivian R1T

Jika Tesla menawarkan mobil listik bermodel sedan, kini muncul perusahaan kendaraan elektrik Rivian Automotive yang menyuguhkan mobil-mobil bermodel truk pickup.

Rivian memamerkan truk pickup listrik bernama R1T pada pameran itu, sebelum menjualnya pada musim gugur 2020.

Rivian belum mengumumkan harga mobil listrik itu, kendati pimpinan perusahaan mengatakan akan mulai menjualnya di bawah harga 70.000 dolar AS (sekira Rp1,01 miliar) sebelum dikenakan pajak.

Adapun varian yang dipasangkan paket baterai terkuat akan dijual dengan harga 90.000 dolar AS (sekira Rp1,3 miliar). Rivian R1T (Rivian Official)
 

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Volkswagen bisa bikin 15 juta mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan

Jakarta (ANTARA News) – Volkswagen mengumumkan akan memiliki kapasitas untuk membangun hingga 15 juta mobil listrik selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan laporan Reuters yang dilansir Fortune, Jumat (7/12).

Perusahaan asal Jerman itu menginvestasikan lebih dari 11 miliar euro (12,5 miliar dolar AS) untuk kendaraan listrik dan otonom pada 2023, di mana lebih dari 80 persen di antaranya (9 miliar euro) akan dialokasikan untuk mobil listrik.

Angka 15 juta itu merupakan koreksi atas pernyataan Chief Executive Volkswagen, Herbert Diess yang sebelumnya menyebut angka 50 juta unit, dalam sebuah wawancara dengan Automotive News.

Baca juga: Volkswagen bisa produksi hingga 50 juta mobil listrik

Volkswagen sebelumnya mengatakan pihaknya berencana membangun 10 juta kendaraan dalam gelombang pertama mobil elektrik dengan harga terjangkau.

VW merencanakan untuk memiliki 27 model kendaraan listrik yang diproduksi pada akhir tahun 2022, dengan mobil-mobil di bawah merek Volkswagen, Audi, dan Skoda.

Model pertama diharapkan keluar tahun depan.

Ini adalah bagian dari strategi pembuat mobil untuk keluar dari model mesin pembakaran setelah mobil generasi berikutnya menggunakan teknologi “tradisional”, menurut Automotive News.

Volkswagen mengatakan bahwa mereka juga membangun aliansi dengan Ford, dan mungkin menggunakan pabrik perusahaan itu untuk membangun kendaraan di Amerika Serikat. Perusahaan saat ini mengkonversi beberapa pabriknya di Eropa untuk membangun kendaraan listrik daripada mobil bermesin pembakaran.

Baca juga: Volkswagen berencana bangun pabrik kendaraan listrik di Amerika Utara

Baca juga: Volkswagen gelontorkan investasi Rp734 triliun demi mobil listrik
 

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

BMW pertimbangkan mobil hybrid yang bisa diubah ke mode listrik

Los Angeles (ANTARA News) – BMW menyatakan akan mempertimbangkan untuk membuat mobil bermesin hybrid yang bisa beralih ke mode khusus berpenggerak listrik secara otomatis, untuk dijual di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi yang tinggi.

Ini merupakan cara BMW bersaing dengan kompetitor yang menggunakan mobil listrik sepenuhnya guna menyediakan mobilitas ramah lingkungan.

“Mobil mematikan mesin pembakaran secara otomatis,” kata anggota dewan direksi BMW, Klaus Froehlich, kepada Reuters di Los Angeles, Jumat.

Berkat konektivitas dan sistem navigasi BMW, mobil-mobil itu dapat dikonversi secara otomatis untuk mematikan mesin bakar, kata Froehlich, menambahkan bahwa BMW X5 bisa menjelajah 80 kilometer dalam mode listrik.

Baca juga: All New BMW M2 Competition resmi diperkenalkan

Saat ini, BMW mendemonstrasikan teknologi itu kepada otoritas di kota-kota Jerman yang akan melarang mobil bermesin diesel karena mencemari udara, untuk menaati peraturan lingkungan yang digalakkan Uni Eropa.

Gara-gara skandal emisi diesel Volkswagen pada 2015, berbagai kota termasuk London, Paris, dan Stuttgart mempertimbangkan larangan kendaraan bermesin bakar.

Di sisi lain, banyak calon konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil listrik. Alasan utamanya adalah infrastruktur pengisian daya yang kurang memadai sehingga memilih kendaraan bermesin hibrida.

Kendaraan bermesin hibrida sangat penting bagi konsumen Eropa karena biasanya mereka hanya mengandalkan satu jenis mobil untuk berbagai keperluan.

Pengadilan administratif Jerman pada Februari lalu memutuskan bahwa kota-kota dapat melarang penggunaan kendaraan diesel di sejumlah ruas jalan guna meningkatkan kualitas udara kota.

Baca juga: BMW pertimbangkan bangun pabrik manufaktur kedua di AS

Baca juga: BMW i8 Roadster, supercar hybrid 369 tenaga kuda

Pewarta:
Editor: Monalisa
Copyright © ANTARA 2018

Soal pabrik mobil listrik, Mitsubishi tunggu antusiasme pasar Tanah Air

Jakarta (ANTARA News) – Mitsubishi masih menunggu antusiasme masyarakat terhadap kendaraan listrik sebelum memutuskan untuk membangun pabrik perakitan kendaraan listrik di Indonesia. Demikian disampaikan oleh Director of Coordination & Development Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia Ogi Ikematsu, di Jakarta, Rabu.

“Untuk pabrik perakitan lokal masih sulit, bukan karena teknologi, tapi kami butuh pasarnya terlebih dahulu,” ucap Ogi.

Dia mengatakan bila pasar mobil listrik telah terbentuk di Tanah Air, maka pihaknya baru bisa mempertimbangkan untuk mempelajari pengembangan sekaligus promosi bisnis mobil listrik di Indonesia.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa untuk bisa membangun pabrik perakitan mobil listrik di Indonesia, diperlukan juga sejumlah faktor penunjang lainnya, seperti keberadaan perusahaan produsen baterai.

“Banyak kabar tentang pabrik baterai, yang juga dibutuhkan dalam perakitan lokal. Baterai merupakan komponen penting bagi mobil listrik. Jika ada pabrik baterai di Indonesia, itu akan membuat lebih mudah untuk kami membangun pabrik perakitan lokal,” ujar Ogi.

Terkait langkah pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang meresmikan fasilitas stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik pertama di Indonesia, Ogi mengapresiasi hal tersebut.

“Mitsubishi Motors turut berpartisipasi dalam proses sosialisasi dan studi bersama terkait pengembangan kendaraan listrik di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Mitsubishi apresiasi BPPT resmikan dua stasiun pengisian daya mobil listrik

Baca juga: Mitsubishi Motors serahkan 10 kendaraan listrik untuk Indonesia

BPPT hari ini meresmikan dua fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia, yakni stasiun pengisian daya cepat (fast charging station) 50 kW di gedung BPPT di kawasan jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat dan stasiun pengisian daya “pintar” (smart charging station) 20 kW di Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan.

Ogi berharap ke depannya fasilitas stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik bisa semakin menjamur di Indonesia. Dengan begitu, secara lambat laun pasar kendaraan listrik di Nusantara bisa segera terbentuk.

“Kita memang membutuhkan pendorong untuk bisa menaruh stasiun pengisian daya, seperti di mall, toko, atau bahkan di rumah dan apartemen. Itu yang harus ditekankan untuk dipasang. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah juga sudah harus mempersiapkan hal tersebut,” ujar Ogi.

Baca juga: BPPT : pengisian daya mobil listrik bisa lebih cepat

Baca juga: BPPT : perlu ada regulasi mobil listrik

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Tesco dan Volkswagen kembangkan stasiun pengisian kendaraan listrik di Inggris

Jakarta (ANTARA News) – Peritel terbesar Inggris Tesco dan pembuat mobil Jerman Volkswagen mengumumkan pada Jumat, telah menjalin kerja sama untuk mengembangkan jaringan pengisian kendaraan listrik di Inggris.

Tesco dan Volkswagen meluncurkan lebih dari 2.400 tempat pengisian kendaraan listrik di 600 toko Tesco dalam tiga tahun ke depan, seperti dilaporkan Reuters.

Mobil listrik dan kendaraan lain yang menggunakan bahan bakar alternatif mencapai sekitar 6 persen dari penjualan di Inggris dan merupakan bagian pasar yang tumbuh paling cepat, naik 22 persen sepanjang tahun ini, dibantu oleh skema pemerintah yang mendukungnya.

Stasiun pengisian akan dipasang oleh Pod Point, yang telah memasang lebih dari 2.500 stasiun yang tersedia di lokasi termasuk pengecer, stasiun servis dan hub transportasi.

Pod Point mengatakan kesepakatan Tesco dan Volkswagen akan memberikan peningkatan 14 persen jumlah stasiun pengisian publik di Inggris.

Pelanggan akan dapat mengisi daya mobil listrik menggunakan pengisi daya 7kW normal secara gratis atau charger 50 kW cepat untuk biaya sesuai dengan harga pasar.

Tesco mengatakan inisiatif ini dibangun di atas komitmennya untuk menggunakan 100 persen listrik terbarukan pada tahun 2030.

Baca juga: Volkswagen berencana bangun pabrik kendaraan listrik di Amerika Utara

Baca juga: Inggris disarankan larang penjualan kendaraan bermesin bakar mulai 2032

Baca juga: Kemenperin umumkan isi aturan kendaraan rendah emisi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018

Mitsubishi apresiasi BPPT resmikan dua stasiun pengisian daya mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), distributor resmi kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi Motors Corporation (MMC) di Indonesia, menyambut positif langkah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Republik Indonesia (BPPT RI) meresmikan dua stasiun pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia.

BPPT hari ini meresmikan dua fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia, yakni stasiun pengisian daya cepat (fast charging station) 50 kW di gedung BPPT Jakarta, dan stasiun pengisian daya “pintar” (smart charging station) 20 kW di Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan.

“Mitsubishi Motors turut berpertisipasi dalam proses sosialisasi dan studi bersama terkait pengembangan kendaraan listrik di Indonesia,” ucap Director of Coordination & Development Division PT. MMKSI, Ogi Ikematsu di Jakarta, Rabu.

Dalam peresmian itu, dua model kendaraan listrik Mitsubishi, i-MiEV dan Outlander PHEV turut berpartisipasi sebagai model kendaraan penumpang yang didemonstrasikan dalam pengisian daya kendaraan listrik, bersama dengan model kendaraan listrik lainnya, seperti bus listrik, sepeda motor listrik, dan sepeda listrik.

Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah yang mempercepat pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, Mitsubishi juga telah mendonasikan 2 unit i-MiEV dan 8 unit Outlander PHEV, serta 4 unit fasilitas pengisian daya cepat kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian.

Baca juga: Mitsubishi Motors serahkan 10 kendaraan listrik untuk Indonesia

“Di mana Mitsubishi I-MiEV sebagai salah satu kendaraan tersebut diterima oleh BPPT dan berpartisipasi dalam acara (peresmian) ini,” ucap Ogi.

Kendaraan-kendaraan itu akan disertakan dalam serangkaian studi pemodelan tentang bagaimana infrastruktur transportasi yang ada di Indonesia saat ini dapat mengakomodasi kendaraan listrik. 

Termasuk menilai penggunaan kendaraan listrik di berbagai lingkungan, seperti kawasan perkotaan, wisata dan pulau terpencil.

Rangkaian peresmian fasilitas pengisian daya cepat yang dilakukan BPPT dilanjutkan dengan road trip kendaraan listrik yang melibatkan peserta yang merupakan pengguna kendaraan listrik dan juga merek otomotif produsen kendaraan listrik dengan rute kantor BPPT Jakarta yang terletak di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat menuju fasilitas pengisian daya kendaraan listrik yang terletak di gedung B2TKE-BPPT di Serpong, Tangerang.

Baca juga: Beda penggunaan mobil listrik Mitsubishi dan Toyota dalam studi Kemenperin

Baca juga: Soal arah kebijakan mobil listrik di Indonesia, Mitsubishi yakini PHEV teknologi paling pas

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Jonan sebut tidak mampu beli mobil listrik

Jakarta,  (ANTARA News) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut tidak mampu membeli mobil listrik pribadi, karena gajinya tidak cukup untuk itu. 

“Saya disuruh jadi contoh dulu untuk memiliki mobil listrik. Lha bagaimana, harganya masih sekitar Rp 5 miliar untuk sejenis Mercy S Class dari Tesla kalau impor. Tidak cukup gaji saya,” canda Jonan dalam acara Pertamina Energy Forum 2018 di Jakarta, Kamis. 

Namun Jonan mengakui telah memiliki motor listrik senilai Rp15 juta. Setidaknya menurutnya itu menjadi langkah mengawali era kendaraan listrik. 

Jonan menjelaskan permasalahan mahalnya kendaraan listrik di Indonesia juga menjadi kendala untuk memulai era elektrifikasi industri otomotif. 

Hal itu, menurutnya, akan mungkin menjadi masif apabila dukungan berupa pemberian insentif bagi pengembang mobil listrik di Indonesia. 

Tentu saja juga didukung dengan infrastruktur SPBU listrik yang sudah banyak tersedia di beberapa daerah. 

Sedangkan, jika era kendaraan listrik tidak dimulai,  maka pada tahun 2025 diperkirakan impor minyak dan gas bumi bisa dua kali lipat. 

Gini saja,  tidak perlu beli kendaraan listrik sekarang,  pakai saja kompor listrik,  kan sudah murah juga sekarang banyak dijual,  itu sudah mengurangi gas,” katanya. 

Upaya dorongan pengembangan kendaraan listrik adalah usaha dari pemerintah untuk mengurangi beban impor migas,  selain itu juga dapat mengurangi emisi gas buang. 

Baca juga: Tahun depan bakal dibuat pembangkit listrik tenaga sawit

Baca juga: Jonan canangkan SPBU berfasilitas isi daya mobil listrik

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2018

Rivian R1T, mobil listrik bermodel truk pickup

Plymouth (ANTARA News) – Jika Tesla menawarkan mobil listik bermodel sedan, kini muncul perusahaan kendaraan elektrik Rivian Automotive yang menyuguhkan mobil-mobil bermodel truk pickup.

Rivian memamerkan truk pickup listrik bernama R1T pada pameran otomotif Los Angeles pada Senin (26/11). Mereka optimistis kendaraan tipe komersial itu akan diterima baik konsumen di Amerika Serikat, dilansir Reuters, Selasa.

CEO Rivian berusia 35 tahun, RJ Scaringe, mengatakan bahwa permintaan untuk pickup listrik “tidak terlayani secara besar-besaran.”

Rivian akan menjual pickup R1T pada musim gugur 2020.

Baca juga: TNI AL jajaki penggunaan kendaraan tempur bertenaga listrik

Kendati demikian, Rivian bukanlah pabrikan pertama yang memproduksi pickup listrik karena sudah ada Workhorse Group Inc asal Cincinnati yang akan memproduksi truk listrik pada 2019.

Jika Workhorse akan menjual pickup listrik kepada kalangan terbatas, Rivian justru mengicar pasar berbeda yakni konsumen individual yang gemar berpergian, karena pickup itu diklaim bisa melaju sejauh 400 mil berkat penyimpanan daya pada tiga pack baterai.

“Apa yang kita bicarakan di sini adalah mobil yang tidak diarahkan dengan baik, tidak ditangani dengan baik, memiliki tingkat bahan bakar ekonomis yang sangat buruk,” kata Scaringe kepada wartawan di Michigan.

Rivian belum mengumumkan harga mobil listrik itu, tetapi Scaringe mengatakan akan mulai menjualnya di bawah harga 70.000 dolar AS (sekira Rp1,01 miliar) sebelum dikenakan pajak.

Adapun varian yang dipasangkan paket baterai terkuat akan dijual dengan harga 90.000 dolar AS (sekira Rp1,3 miliar).

Baca juga: Musk: Tesla mungkin tertarik garap van Sprinter bersama Mercy

  Rivian R1T (Rivian Official)

Ragu

Pejabat industri dan analis otomotif meragukan potensi mobil listrik bermodel pickup ini. Mereka tidak yakin model ini akan terjual dengan jumlah yang besar, kecuali bisa menawarkan daya jelajah yang melampaui mobil bermesin kovensional.

Rivian menawarkan daya angkut 1.760 pon (790 kilogram) dengan kekuatan untuk menarik beban 11.000 pon (5 ton) yang dianggap kurang sebanding dengan pickup populer di AS yakni Ford F-150 atau GMC Sierra.

“Sebuah hybrid lebih masuk akal,” kata Sam Fiorani pengamat otomotif dari Auto Forecast Solutions yang menilai pickup berpenggerak hybrid akan lebih baik ketimbang listrik sepenuhnya.

Baca juga: Di China, harga Tesla turun hingga 26 persen

Di sisi lain, CEO Tesla Elon Musk mengatakan kepada para investor pada Agustus bahwa pickup listrik “mungkin favorit saya secara pribadi untuk produk berikutnya”.

Ford Motor Co menjanjikan pickup F-150 versi hybrid pada 2020 dan mengisyaratkan model listrik sepenuhnya di masa depan.

Sampai saat ini sebagian besar pasar pickup di AS masih menggandakan model-model bermesin konvensional, misalnya Jeep Gladiator terbaru yang akan diluncurkan di Los Angeles.

Adapun Rivian menyasar konsumen yang sama dengan Jeep Gladiator, yakni kalangan pengguna rekreasi yang menggunakan mobil pickup untuk penunjang gaya hidup, misalnya mengangkut jet-ski, berkemah atau mengangkut motor offroad.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018

Renault Samsung tawarkan lebih banyak Twizy untuk layanan berbagi mobil

Jakarta (ANTARA News) – Renault Samsung Motors Corp mengatakan akan menyediakan lebih banyak mobil listrik ultracompact Twizy ke layanan berbagi mobil (car-sharing) lokal, sebagai langkah untuk memperkuat posisi sebagai pembuat kendaraan listrik terdepan. 

Dilansir Yonhap pada Rabu, Renault Samsung secara bertahap akan memasok 45 model Twizy lainnya ke layanan berbagi mobil LH Happiness yang tersedia di 23 kompleks apartemen yang dibangun oleh Korea Land & Housing Corp (LH), perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Renault Arkana diluncurkan di Moscow International Auto Show 2018

Baca juga: Renault Lodgy gagal dalam uji tabrakan Global NCAP

Pembuat mobil  telah menyediakan 45 model Twizyke 23 jaringan komplek apartemen milik LH sejak 2013, untuk membantu penghuni apartemen menggunakan mobil listrik seharga 3.000 won (2,70 dolar AS) per jam, kata juru bicara perusahaan.

Renault Samsung memiliki kendaraan Twizy, mengelola dan melakukan pembayaran untuk biaya pengisian mereka, kata dia. Apartemen LH biasanya dialokasikan untuk rumah tangga berpendapatan rendah.

Produsen mobil Perancis Renault S.A. memegang 80 persen saham di Renault Samsung.

Baca juga: Indeks CAC-40 Prancis ditutup melemah termasuk saham Renault

Baca juga: VW-Renault akan pelopori penggunaan WiFi 5G pada mobil
 

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Industri mobil swakemudi butuh standarisasi dan aturan keamanan

Berlin (ANTARA News) – Para pembuat mobil membutuhkan standarisasi peralatan, keamanan, jaringan broadband 5G dengan jangkauan luas dan kemitraan antarpemasok yang erat agar industri swakemudi dan kendaraan listrik semakin maju.

Ralf Speth, pimpinan eksekutif Jaguar Land Rover, dilansir Reuters Rabu (7/11), menguraikan rencana ambisius untuk memimpin transisi teknologi menuju era swakemudi, kendati hal itu membutuhkan pedoman terpadu dan keamanan yang jelas demi menjaga privasi pemilik kendaraan.

Pemerintah dan industri harus bekerja sama dalam memastikan keberhasilan seiring perkembangan pasar, kata Speth pada konferensi yang digelar Automobilwoche di Berlin.

Saat ini pabrikan otomotif Eropa berlomba mengikuti perkembangan kendaraan listrik dan swakemudi yang pesat di Amerika Serikat dan China.

Menurut Speth, perkembangan teknologi juga harus menjamin keamaan para pengguna, misalnya kaum lansia yang mungkin saja kesulitan mengoperasikan, bahkan bisa terkunci di dalam mobil yang canggih itu

Baca juga: Nvidia akan memasok chip kecerdasan buatan untuk Volvo

Ia juga menekankan pentingnya kemitraan erat antara pabrikan mobil dan pemasuk sukucadang guna menyediakan berbagai kebutuhan sejalan dengan perkembangan teknologi itu.

“Tidak ada perusahaan yang dapat mengatasi tantangan seperti swakemudi dan konektivitas otonom,” kata Speth kepada Reuters setelah konferensi.

Ia menambahkan, perusahaan tetap harus berinvestasi pada mesin-mesin konvensional karena masih dibutuhkan masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Hyundai kembangkan sistem swakemudi pakai teknologi game 3D

Speth juga menyatakan perlunya standarisasi stasiun pengisian daya listrik dan sistem komunikasi kendaraan. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah produksi baterai mobil listrik.

Oliver Blume, pimpinan eksekutif Porsche, mengatakan permintaan baterai akan sangat besar pada tahun-tahun mendatang, yang tidak dapat dipenuhi pemasok saat ini.

“Kami pasti membutuhkan kemitraan yang cerdas,” katanya.

Baca juga: Volkswagen dan Ford lakukan pembicaraan soal mobil listrik dan swakemudi

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Tesla hingga GS Yuasa, belasan pabrik berlomba produksi baterai EV di Eropa

Berlin (ANTARA News) – Belasan pabrikan baterai hingga perusahaan otomotif berlomba membangun pusat produksi baterai mobil listrik (electric vehicle/EV) di kawasan Eropa, bertujuan mengurangi ketergantungan pasokan baterai dari Asia atau Amerika.

Jerman, negara pusat otomotif Eropa, mengalokasikan dana 1 miliar euro (Rp 16,6 triliun) guna mendukung konsorsium yang akan memproduksi sel baterai mobil listrik sekaligus mendanai penelitian baterai solid-state, menurut tiga orang sumber dilansir Reuters, Sabtu.

Berbagai tahapan terkait rencana itu akan diumumkan Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier pada pekan depan, diharapkan dapat melindungi pekerja Jerman dari ancaman PHK apabila terjadi pergeseran pola produksi dari mesin konvensional ke era mobil listrik.

Setidaknya ada 14 perusahaan dari berbagai negara yang akan terlibat dalam proyek produksi baterai di Eropa, mulai dari Tesla, GS Yuasa hingga Samsung. Berikut ulasannya seperti dilansir Reuters:

Northvolt

Perusahaan Swedia yang dipimpin mantan eksekutif Tesla, ingin membangun pabrik baterai lithium-ion terbesar di Eropa, memproduksi 32 gigawatt jam (GWh) sel baterai dalam setahun pada 2023.

Northvolt bermitra dengan BMW dan raksasa industri Jerman, Siemens, untuk membangun pabrik yang ingin menyaingi “gigafactory” milik Tesla.

Northvolt juga merencanakan sebuah pabrik di Polandia untuk memproduksi sistem baterai yang menyasar perusahaan penyimpanan energi dan industri pertambangan.

Tesla

Produsen mobil listrik AS, Tesla, mendukung Jerman sebagai lokasi gigafactory pertama di Eropa, kata kepala eksekutif Elon Musk pada Juli.

Tesla sudah beroperasi di Pruem, Jerman, melalui divisi Otomatisasi Grohmann khusus pada sistem manufaktur di pabrik pembuat baterai.

Tesla memang berencana membangun tiga Gigafactories setelah pabrik pertama di Nevada, AS. Pabrik itu akan dimiliki bersama oleh Panasonic, pemasok sel baterai eksklusif untuk Tesla Model 3.

GS Yuasa

Pembuat baterai Jepang, GS Yuasa Corp, mengatakan pada Januari akan mendirikan pabrik di Hongaria yang akan merakit baterai lithium ion. Mereka juga mempertimbangkan untuk memproduksi sel baterai di pabrik itu pada masa depan.

CATL

China Contemporary Amperex Technology Co (CATL) mengatakan pada Juli akan menjadikan Jerman sebagai lokasi pabrik pertama di Eropa, yang memasok baterai lithium-ion kepada BMW.

Pabrik CATL akan menciptakan 600 lapangan kerja dengan kapasitas produksi 14 gigawatt jam (GWh) pada 2022.

BYD

Pembuat kendaraan listrik China BYD merupakan salah satu produsen baterai terbesar di dunia dengan biaya produksi terendah, menurut Bernstein Research.

BYD mempertimbangkan produksi sel baterai di Eropa, menurut seorang eksekutif kepada Reuters awal tahun ini. Perusahaan ini memiliki dua lokasi produksi untuk bus listrik di Eropa, di Hongaria dan Prancis.

Baca juga: Panasonic siap tambah investasi di Tesla Gigafactory

LG CHEM

LG Chem dari Korea Selatan berencana memproduksi 100.000 baterai mobil listrik per tahun di Polandia, sekira 190 km dari perbatasan Jerman.

LG Chem akan memasok baterai untuk Audi, Porsche dan Daimler. Mereka juga mendapatkan kontrak menyuplai baterai untuk Volkswagen mulai akhir 2019.

GSR Capital

Pada tahun lalu, perusahaan China GSR Capital membeli bisnis baterai kendaraan listrik dari Nissan Motor Co — Automotive Energy Supply Corp — termasuk pabrik baterai di Jepang, AS dan Inggris.

Pabrik di Inggris memproduksi 2 GWh baterai lithium ion per tahun untuk kendaraan listrik Nissan.

Samsung SDI

Samsung SDI dari Korea Selatan akan memproduksi baterai untuk 50.000 kendaraan listrik per tahun di pabrik baru yang berlokasi dekat Budapest pada tahun ini.

Samsung SDI, afiliasi Samsung Electronics Co Ltd, juga memproduksi baterai yang dapat diisi ulang untuk perangkat elektronik seperti smartphone dan sistem penyimpanan energi.

Samsung SDI, yang sudah memiliki pabrik di Austria yang merakit paket baterai, kemudian mengirimkannya ke Volkswagen dan BMW.

SK Innovation

Pabrikan asal Korea Selatan, SK Innovation, akan memulai produksi baterai Hongaria pada 2020. Perusahaan yang awalnya bernama Korea Oil Corporation itu memiliki kilang minyak mentah terbesar di Korea Selatan.

Mereka juga memiliki divisi bahan kimia, pelumas, baterai dan elektronika.

SAFT

Saft, perusahaan Prancis yang dimiliki raksasa energi Total, mampu memproduksi berbagai jenis baterai, termasuk penyimpan daya cadangan dan aplikasi industri, tetapi tidak untuk kendaraan listrik.

Pada Februari, mereka membangun aliansi dengan kelompok industri Jerman, Siemens, Solvay dan Manz untuk mengembangkan baterai generasi baru.

Volkswagen

Dewan pengawas Volkswagen (VW) bakal membahas mobil listrik dan strategi produksi baterai pada sebuah pertemuan 16 November nanti. Produsen mobil Jerman itu pernah menyatakan akan mempelajari potensi memproduksi baterai di pabriknya di Salzgitter.

Sebuah sumber mengatakan kepada Reuters, mereka akan membahas aliansi yang luas dengan pembuat sel baterai asal Korea Selatan SK Innovation.

Baca juga: BMW tekan biaya pembuatan baterai mobil listrik

BMW

BMW sedang membangun konsorsium teknologi bersama Northvolt dan Umicore dari Belgia. Mereka akan mengembangkan rantai pasokan untuk sel baterai di Eropa, termasuk pengembangan, produksi dan daur ulang.

Perusahaan mengatakan akan membeli bahan baku, misalnya kobalt, kemudian menyediakan sel baterai sebagai cara mengamankan pasokan baterai mobil listrik.

Daimler

Daimler akan membuat pabrik Mercedes-Benz di Sindelfingen dan Untertuerkheim mampu merakit baterai mobil listrik. Perusahaan itu sudah merakit baterai di pabrik Kamenznya, kendati produksi mereka masih bergantung pada sel baterai impor.

Continental AG

Perusahaan suku cadang mobil Jerman yang juga memproduksi ban, Continental AG, membentuk usaha patungan pada Maret bersama pemasok suku cadang mobil China, CITC, untuk memproduksi baterai hibrida ringan di China.

Continental mempertimbangkan untuk membuat baterai mobil listrik berteknologi solid-state, kendati hingga saat ini belum ada perkembangan terkait rencana tersebut.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Blits bisa menempuh 300km dalam sekali pengisian listrik

Jakarta (ANTARA News) – Blits, mobil listrik Indonesia hasil kolaborasi Universitas Budi Luhur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), bisa menempuh jarak 300kilometer dalam sekali pengisian daya.

Dosen Pembimbing Proyek Blits, Nur Yulianto, menjelaskan mobil yang ingin diikutkan pada Rally Dakar itu memiliki 2.800 sel baterai, terdiri 92 seri dan sisanya paralel yang di-pack menjadi 350volt.

“Bisa menempuh 300 kilometer untuk sekali charge. Waktu pengisian tergantung kekuatan daya listrik,” kata Nur Yulianto dalam keterangannya, Senin, kemudian menambahkan membutuhkan sekira 8 jam untuk mengisi penuh baterai.

Posisi baterai berada di bagian bawah mobil, mengacu pada titik pusat gravitasi agar mobil semakin stabil, kata dia.

Baterai Blits masih diimpor dari China, namun manajemen baterai pack sudah dikerjakan sendiri oleh tim mereka.

“Yang harus kita impor adalah baterai, tapi bukan baterai pack yang sudah kami kerjakan sendiri. Sistem manajemen baterai sudah kami kerjakan sendiri,” katanya.

Baca juga: Mobil listrik Blits menjelajah 15.000km sebelum terjun Rally Dakar PLN BLITS Explore Indonesia merupakan touring mobil listrik karya anak bangsa hasil kolaborasi Budi Luhur dan ITS (BLITS) yang akan berkeliling Indonesia dengan total jarak tempuh lebih dari 15.000 km. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama.

Ia menjelaskan, kolaborasi antara Budi Luhur dan ITS menitikberatkan pada powertrain — baterai pack, transmisi, motor listrik dan kontrol algoritma — yang terus diujicoba dan dipantau secara teliti. Adapun bagian sasis, bodi hingga kaki-kaki sudah bisa dibuat di dalam negeri.

“Semua parameternya dilihat, mulai dari temperatur, performa, RPM, tekanan oli, karena mau tahu secara engineering apakah sudah benar atau belum,” ujar dia.

“Di luar mesin, (cangkang bodi hingga sasis) bangsa ini sudah bisa membuatnya. Industri karoseri kita sudah pintar, tapi mesinnya masih impor,” katanya.

Blits akan diuji coba 15ribu kilometer dari ITS Surabaya, Budiluhur Jakarta, Medan, Aceh, Sabang, Pontianak, Sampit, Balikpapan, Samarinda, Makasar, Kendari, Manado, Ternate, Sorong (Papua), Manokwari, Jayapura, Marauke, Kupang, Labuan Bajo, Bima, Mataram, Bali, Banyuwangi, dan finish di Surabaya.

Pada ujicoba “PLN Blits Explore Indonesia” yang juga diikuti mobil hybrid series KASUARI, Blits akan menyambangi sejumlah kantor PLN untuk mengisi daya. Ada juga beberapa metode pengisian daya lain, misalnya menggunakan genset atau menukar baterai (swap) dengan yang sudah terisi.

Baca juga: Tiga kendaraan inovatif ITS jelajahi Indonesia
 

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Volkswagen bisa produksi hingga 50 juta mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – Volkswagen bisa memproduksi hingga 50 juta mobil listrik pada platform kendaraan listriknya yang baru dan sedang dipertimbangkan untuk diperluas jejak manufakturnya di Amerika Serikat, Chief Executive Herbert Diess mengatakan kepada Automotive News.

“Kami mendirikan pabrik di Chattanooga selalu dengan gagasan untuk dapat mengembangkannya,” kata Diess seperti dikutip Automotive News yang dilansir Reuters, Selasa. 

“Pabrik ini masih terlalu kecil, dan kami mempertimbangkan opsi yang berbeda –mungkin mobil listrik, mungkin turunan berbeda dari Atlas (SUV) — itu masih terbuka,” tambahnya

Diess mengatakan Volkswagen dan Ford sedang mencari peluang kerjasama yang dapat berkembang, terutama dalam kendaraan komersial.

“Yang kami bicarakan adalah berbagi beberapa platform dan tempat manufaktur di sana, yang masuk akal. Dan di dalam pembicaraan, kami juga membahas opsi lain, tetapi ini akan menjadi fokus utama jika kami sampai pada suatu kesimpulan,” ucapnya. 

Baca juga: Volkswagen dan Ford lakukan pembicaraan soal mobil listrik dan swakemudi

Ford dapat membantu Volkswagen mengembangkan penerus global untuk pickup Amarok, atau pickup unibody, kata Diess.

Volskwagen terbuka untuk melisensikan platform mobil listrik MEB kepada produsen pihak ketiga. Diess menegaskan kembali bahwa itu adalah bagian dari strategi untuk meningkatkan skala ekonomi.

Dia mengatakan Volkswagen dapat memproduksi hingga 50 juta kendaraan listrik secara global di seluruh mereknya, dimulai pada 2020, dan memiliki perjanjian pengadaan baterai untuk mereka. Diess menyebut pemberian lisensi MEB kepada produsen mobil lainnya akan menghasilkan peningkatan efisiensi lebih lanjut.

Seorang juru bicara VW mengatakan jumlah yang disebutkan oleh Diess adalah tujuan jangka panjang teoritis untuk platform mobil listrik MEB. Platform kendaraan Volkswagen Group saat ini, MQB, telah melahirkan sekitar 50 juta kendaraan yang sebagian besar bermesin pembakaran pada beberapa merek selama bertahun-tahun.

Volkswagen Group menjual 10,7 juta kendaraan pada tahun 2017.

Perusahaan Jerman ini melakukan investasi besar-besaran dalam kendaraan listrik ketika mencoba untuk membangun kembali reputasinya menyusul skandal uji emisi mesin diesel di Amerika Serikat yang telah menghabiskan miliaran dolar AS untuk denda dan reparasi.

Baca juga: Broadcom buat klaim paten 1 miliar dolar AS terhadap Volkswagen

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Toyota kembangkan pembakaran hidrogen di pabrik tekan emisi

Jakarta (ANTARA News) – Toyota Motor Corporation telah mengimplementasikan sistem pembakaran hidrogen di pabriknya di Jepang, diklaim yang pertama untuk keperluan industri, sebagai bagian dari langkah mengurangi emisi C02 dan membangun proses produksi yang ramah lingkungan.

Sistem pembakaran hidrogen yang dikembangkan bersama Chugai RO Co.Ltd itu telah diterapkan di Pabrik Honsha milik Toyota di Jepang, kata Toyota dalam pernyataan resminya, dikutip Sabtu.

Dalam pembakaran hidrogen konvensional, hidrogen bereaksi cepat dengan oksigen, yang mengarah ke suhu nyala api yang tinggi dan emisi NOx yang berbahaya bagi lingkungan.

Sistem pembakaran baru yang dikembangkan Toyota menggabungkan dua struktur yang memungkinkan hidrogen membakar lebih lambat.

Baca juga: Toyota tarik lebih dari 1 juta kendaraan terkait masalah air bag

Sistem pembakaran dalam proses produksi yang dikembangkan Toyota ini menghasilkan emisi nol dan diklaim menghasilkan kinerja lingkungan yang luar biasa.

Jika hidrogen dan oksigen dalam keadaan tercampur penuh ketika dinyalakan, campuran itu membakar dengan kuat dengan suhu nyala api tinggi. Pada pembakar yang baru dikembangkan, hidrogen dan aliran oksigen bersisian dan dinyalakan tanpa dicampur sepenuhnya.

Baca juga: Penjualan global stabil, laba bersih Toyota melonjak 16 persen

Oleh karena itu, pembakaran pada sistem hidrogen menghasilkan pembakaran yang lebih lambat dan suhu nyala api yang lebih rendah.

Toyota mengatakan, untuk mencapai target Tantangan Pabrik Emisi Nol CO2, yang merupakan bagian dari Toyota Environmental Challenge 2050, Toyota menerapkan teknologi inovatif dan kegiatan kaizen (peningkatan berkelanjutan) setiap hari.

Toyota juga akan menggunakan energi yang berasal dari sumber terbarukan di pabriknya, termasuk energi hidrogen.

“Teknologi baru yang diumumkan hari ini akan memungkinkan 1.000 pembakar gas alam berskala besar untuk digantikan oleh pembakar hidrogen di pabrik kami di seluruh Jepang,” demikian Toyota.

Baca juga: Corolla terbaru akan ditampilkan di Guangzhou International Automobile
 

Pewarta: Suryanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Hasil studi: Mobil listrik hemat energi hingga 80 persen

Jakarta (ANTARA News) – Mobil listrik dinilai mampu menghemat energi hingga 80 persen dibandingkan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). 

Hal tersebut merupakan salah satu hasil studi dan riset yang didorong oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan menggandeng Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi, serta industri otomotif.

“Berdasarkan penelitian, rata-rata mobil listrik jenis hibrid itu bisa hemat 50 persen, sedangkan yang plug-in hybrid bisa lebih hemat lagi hingga 75-80 persen,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melalui keterangannya diterima di Bali, Selasa.

Airlangga menyampaikan hal itu pada acara “Final Report 1st Round Electrified Vehicle Comprehensive Research & Study” di Kemenperin, Jakarta.

Menurut Menperin, penggunaan mobil listrik bisa menghemat BBM hingga dua kali lipat dibanding saat memakai bahan bakar B20. 

“Kalau program B20 saja sudah bisa menghemat sekitar enam juta kiloliter BBM, maka dengan hibrid atau plug-in hybrid akan ada dua kali penghematan,” tuturnya.

Langkah tersebut diyakini dapat merealisasi komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030 sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi darat. 

Selain itu, diharapkan target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) di tahun 2025 dapat tercapai.

Airlangga menjelaskan, riset dan studi pada tahap pertama ini merupakan laporan dari tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Mereka telah melakukan uji coba terhadap mobil listrik Toyota jenis hibrid atau plug-in hybrid.

“Tujuan studi dan riset tersebut adalah membahas tentang karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial dan industri, serta kebijakan dan regulasi yang akan ditetapkan ketika teknologi itu sudah berkembang,” paparnya.

Studi dan riset juga sejalan dengan hal yang didorong oleh Kemenristekdikti terkait dengan kemampuan mobil listrik nasional (molina). 

“Saat ini, roadmap pengembangan industri otomotif nasional sedang kami dorong, termasuk peraturan pemerintah atau perpres terkait pengembangan kendaran listrik dan fasilitas-fasilitasnya,” imbuhnya.

Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik, Kemenperin telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif fiskal berupa tax holiday, Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, serta pembiayaan ekspor dan bantuan kredit modal kerja untuk pengadaan battery swap

“Dari sisi fasilitas nonfiskal seperti penyediaan parkir khusus, keringanan biaya pengisian listrik di SPLU hingga bantuan promosi,” ujar Menperin.

Setelah tahap pertama ini, Kemenperin akan melanjutkan laporan hasil riset mobil listrik terkait dengan aplikasi, ketahanan, dan ketersediaan infrastruktur. 

Tahap kedua akan dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Udayana yang ditargetkan rampung pada Januari 2019.

Di tahap kedua, riset yang sama juga akan dilakukan oleh perguruan tinggi selanjutnya, dengan demikian terjadi integrasi di kampus mulai dari riset sampai dengan aplikasi sehingga ekosistem itu bisa terpetakan di perguruan tinggi. 

“Untuk Perpres-nya, rencananya akan dikeluarkan pada tahun ini,” jelasnya.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan secara internal proses studi saat ini sudah selesai. 

Artinya, tinggal dikolaborasikan dengan industri supaya bisa memanfaatkan inovasi mobil listrik tersebut. 

“Tidak akan bisa jalan jika tidak ada industri yang akan menggunakan inovasi ini,” ujarnya.

Nasir menambahkan, pemerintah juga berencana untuk memfasilitasi dan memediasi antara akademisi dengan industri yang akan memanfaatkan hasil studi tersebut. Salah satunya, melalui pemberian insentif industri seperti super tax deduction

“Kalau ini bisa dilakukan, saya optimistis bisa berhasil,” tegasnya.

Baca juga: Pengamat: mobil listrik baik dikembangkan di Indonesia, asal…

Baca juga: Kemenperin kaji insentif untuk dorong mobil listrik

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2018

Belum dipasarkan, Honda pamer PCX Electric di IMOS 2018

Jakarta (ANTARA News) – PT Astra Honda Motor pada pameran IMOS 2018 menghadirkan untuk pertama kalinya PCX Electrix, lengkap dengan paket baterai berupa Honda Mobile Power Pack.

Kendati demikian, Honda PCX Electric ternyata masih dalam tahap studi yang nantinya harus dikembangkan agar bisa dipasarkan di Indonesia.

“Untuk PCX Electric hari ini kita mengatakan produk konsep dan kita saat ini dalam saat ini sedang dalam  proses final,” kata Marketing Director AHM Thomas Wijaya, saat ditemui di Booth Honda IMOS 2018, JCC, Jakarta Selatan, Rabu.

Thomas menambahkan, terdapat beberapa proses dari tahapan final tersebut, yang mengharuskan masyarakat bersabar untuk mendapatkan PCX Electric ini.

PCX Electric ini yang sudah sampai tahap final, mempunyai beberapa langkah ke depan yang nantinya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, sehingga PT AHM masih terus mengkaji untuk bisa memasarkan motor itu.

“Dalam tahap final ini kita harus memikirkan 5 faktor untuk ke depannya seperti mengenai regulasi, terkait dengan infastruktur, safety keamanan dan kenyaman serta biaya bahan baku dan pengolahan limbah,” tutupnya.

Baca juga: Honda “Project G” tampil di IMOS 2018

Baca juga: Skutik hingga BigBike, AHM suguhkan 37 motor di IMOS 2018

Baca juga: SG-411 Himalayan, motor modifikasi Royal Enfield di IMOS 2018

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Mobil listrik Kia-Hyundai bisa “dicas” pakai sinar matahari

Seoul (ANTARA News) – Kia Motors dan Hyundai Motor hari ini mengumumkan teknologi pengisian daya “solar roof” yang memungkinkan mobil-mobil terpilih dari grup Hyundai mendapatkan fitur charging panel surya yang ditempatkan pada atap kendaraan.

Panel surya yang dipasang pada atap atau kap kendaraan, akan menangkap sinar matahari kemudian diolah menjadi energi yang disalurkan ke mesin atau baterai pada kendaraan hibrida dan listrik, dilansir laman resmi perusahaan, Rabu.

Sistem ini juga berkemampuan mengisi baterai kendaraan listrik dan hibrida, serta kendaraan mesin pembakaran internal (ICE) yang membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Hyundai Motor Group mengembangkan tiga jenis sistem pengisian atap surya. Sistem generasi pertama untuk hibrida, teknologi generasi kedua menggunakan sistem solar roof semi-transparan ke kendaraan ICE. Adapun generasi ketiga dari teknologi ini akan mengenalkan solar roof berbobot ringan untuk kendaraan listrik menggunakan baterai.

Baca juga: Hyundai dan Kia luncurkan model baru untuk pasar Eropa di Paris Motor Show

Cara kerja

Sistem pengisian solar terdiri atas panel surya, pengontrol dan baterai. Ketika panel menyerap cahaya matahari, benda itu menciptakan elektron dalam sel silikon yang memungkinkan arus mengalir dan menghasilkan listrik.

Sistem generasi pertama yang diterapkan pada model hibrida, dibuat dari struktur panel surya silikon yang terintegrasi ke dalam atap mobil standar. Sistem ini mampu mengisi 30 hingga 60 persen baterai, tergantung kondisi cuaca dan faktor lingkungan lainnya.

Atap surya semi-transparan generasi kedua akan diterapkan pada kendaraan ICE, diintegrasikan dengan sunroof panoramic, membiarkan cahaya masuk ke kabin, sambil mengisi daya baterai kendaraan pada saat yang bersamaan.

Sedangkan sistem generasi ketiga masih dalam tahap pengujian, dirancang untuk dipasang pada kap mesin dan atap mobil listrik.

“Di masa depan, kami berharap dapat melihat berbagai jenis teknologi penghasil listrik yang terintegrasi ke dalam kendaraan kami,” kata Wakil Presiden Eksekutif Bidang Teknik dan Desain Hyundai Motor Group, Jeong-Gil Park, dalam keterangan tertulisnya, Rabu.

“Atap matahari adalah yang pertama dari teknologi ini, dan berarti mobil tidak lagi secara pasif mengkonsumsi energi, tetapi akan mulai memproduksinya secara aktif,” tambah Jeong-Gil Park.

“Ini adalah perkembangan yang menarik bagi kami, merancang teknologi bagi pemilik kendaraan untuk membantu mereka beralih dari pengguna energi menjadi produsen energi,” katanya.

Hyundai Motor Group akan meluncurkan generasi pertama teknologi ini ke dalam kendaraannya setelah 2019, guna memenuhi target regulasi global dan meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan.

Baca juga: Hyundai Kia petenkan A-pillar display atasi blind spot

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

AHM optimistis pasar hybrid berkembang di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – PT Astra Honda Motor optimistis pasar sepeda motor hybrid akan terus berkembang di Indonesia, menyusul pencapaian yang memuaskan dari penjualan Honda PCX Hybrid yang baru di luncurkan pertengahan tahun ini.

“Saya sih optimis ya karena Indonesia lagi ke arah motor dengan teknologi tinggi yang ramah lingkungan,” ucap Rina Listiani, Public Relation Manager PT Astra Honda Motor saat berbincang di kawasan Kemayoran, Jakarta, Senin.

Menurut Rina kehadiran sepada motor hybrid dengan teknologi baru yang mampu meningkatkan performa mesin dan pemakaian bahan bakar menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

“Saya optimis teknologi hybrid ini akan terus diterima baik masyarakat. Kita juga akan terus berinovasi kedepannya sehingga akan lebih bagus untuk masyarakat manfaatnya tentu akan lebih baik,” lanjutnya.

Sejak diluncurkan pertengahan tahun ini penjualan sepeda motor Honda PCX Hybrid telah sampai ke luar pulau Jawa, seperti di pulau Sumatera. Meskipun peminatnya kebanyakan masih dari masyarakat yang tinggal di kota besar.

“Pemasaran sudah sampai luar Jawa, tapi kebanyakan peminat dari kota besar. Mungkin mereka ingin memiliki motor dengan teknologi yang lebih canggih,” ujar Rina.

Baca juga: Baterai lithium-ion Honda PCX Hybrid bisa bertahan sampai 4 tahun

“Kita bertahap sekaligus edukasi karena kita baru mulai pertengahan tahun produksi,” jelasnya.

Honda PCX Hybrid diperkenalkan pada bulan April lalu, kendaraan roda dua berteknologi hybrid diklaim yang pertama di dunia. Motor ini dibanderol dengan harga Rp40.300.000 (on the road DKI Jakarta).

Teknologi hybrid yang hadir pada Honda PCX Hybrid bekerja saat tuas gas diputar dengan spontan. Tenaga motor pembantu yang didapatkan dari baterai lithium-ion yang disematkan pada mesin 150 cc ini disebut mampu meningkatkan torsi sehingga membuat akselerasi lebih responsif dibandingkan PCX standar.

Teknologi hybrid PCX ini juga mampu menghemat lebih dari 2,2 persen dalam penggunaan bahan bakar berdasarkan pengetesan EURO 3 dengan menggunakan metode ECE R40.

Baca juga: Honda PCX Hybrid motor terbaik pilihan wartawan otomotif

Baca juga: Honda PCX Hybrid menyapa Kota Manado

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

VW bangun pabrik berstandar Industri 4.0 di China

Jakarta (ANTARA News) – SAIC Volkswagen, perusahaan patungan Volkswagen dengan mitra lokal di China, membangun pabrik baru di Anting, Shanghai, yang berstandar Industri 4.0 dan akan memproduksi kendaraan listrik mulai 2020.

Model pertama yang akan diproduksi di pabrik SAIC Volkswagen di Anting itu adalah SUV brand Volkswagen, kata Volkswagen dalam pernyataan resminya, dikutip Minggu.

Melalui platform Modular Electric Drive Kit Volkswagen (MEB), platform unik Volkswagen yang didesain untuk produksi massal kendaraan listrik, Volkswagen mengaku akan dengan mudah menghasilkan kendaraan listrik canggih untuk pelanggannya di China dalam skala tinggi.

“Grup Volkswagen, merek dan mitra usaha patungan China kami fokus secara konsisten pada mobilitas berkelanjutan dan mendorong transformasi industri otomotif di China dan di seluruh dunia. Dengan cara ini, kami menekankan pentingnya pasar China untuk Volkswagen Group,” kata Herbert Diess, Ketua Dewan Manajemen Grup Volkswagen.
 
Pabrik baru SAIC Volkswagen itu akan mengadopsi jaringan produksi berbasiskan Industri 4.0 dan meningkatkan tingkat otomatisasi dan efisensi. Fasilitas ini dilengkapi lebih dari 1.400 robot standar Industri 4.0, serta berbagai teknologi, termasuk Artificial Inttelligence, Augmented Reality, dan Virtual Reality yang cerdas dan digital.

Fasilitas produksi yang dibangun di atas lahan 610.000 meter persegi ini menggunakan 27 jenis teknologi ramah lingkungan dengan fokus khusus pada pelestarian air, penghematan energi, dan pengurangan karbon dioksida.

Pabrik baru ini akan mulai berproduksi pada 2020 dengan kapasitas tahunan direncanakan 300.000 unit. Dengan Roadmap E, Volkswagen ambisius untuk memproduksi kendaraan listrik.

Pada 2025, 50 kendaraan listrik murni akan ada di pasar di seluruh dunia, dengan satu dari empat kendaraan baru akan menggunakan tenaga listrik sepenuhnya, kata Volkswagen menjelaskan.

China merupakan pasar penting bagi Volkswagen, dan pada Juni lalu brand ini juga membuka pabrik FAW-Volkswagen kedua di Foshan yang menandai tonggak penting lain dari strategi elektrifikasi Volkswagen di negara ini.

Kapasitas produksi kendaraan FAW-Volkswagen di Fhosan meningkat dua kali dari 300.000 unit menjadi 600.000 unit setahun.

Pada akhir Mei lalu, produksi model Volkswagen di pabrik FAW-Volkswagen di Qingdao dimulai. Fasilitas manufaktur fleksibel ini memungkinkan untuk model dengan mesin pembakaran internal serta sistem penggerak listrik yang akan dibangun pada jalur produksi yang sama.

FAW-Volkswagen juga akan memproduksi sistem baterai untuk platform MQB di sana.

Baca juga: VW-Renault akan pelopori penggunaan WiFi 5G pada mobil

Baca juga: Volkswagen Skoda butuh pabrik baru untuk bersaing di Eropa

Pewarta: Suryanto
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Taksi listrik London “Black Cab” beroperasi di Paris

London (ANTARA News) – Taksi ikonik Kota London “Black Cab” yang kini sudah menggunakan sistem penggerak listrik akan beroperasi di Paris, Prancis, mulai tahun 2019.

London Electric Vehicle Co yang menaungi penjualan Black Cab memperluas cakupan pasarnya dengan menyasar kota-kota besar Eropa selain London, dilansir Economic Times, Jumat (19/10) waktu setempat.

Perusahaan yang membuat taksi bermesin “plug-in electric” itu tetap mempertahankan desain klasik Black Cab, dengan ciri khas lampu bulat dan grille depan yang besar, serta lekukan bodi yang menyerupai mobil-mobil di era 60-an.

Sejauh ini terdapat 600 unit Black Cab yang beroperasi di London.

Selain Paris, London Electric Vehicle akan memperluas pasarnya ke Amsterdam, Berlin, Hamburg dan Oslo.

Pengoperasin Black Cab di Paris diklaim sejalan dengan program Wali Kota Anne Hidalgo yang agresif dalam meningkatkan kualitas udara di kota mode itu.

CEO London Electric Vehicle, Chris Gubbey, menyatakan ingin memberikan “opsi baru” kepada pengemudi dan penumpang untuk bersama-sama mengurangi polusi udara dengan menggunakan kendaraan umum berupa taksi yang ramah lingkungan.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Inggris disarankan larang penjualan kendaraan bermesin bakar mulai 2032

Jakarta (ANTARA News) – Komite parlemen Inggris pada Jumat menyarankan agar pemerintah mengajukan larangan penjualan mobil baru berbahan bakar bensin dan diesel (combustion engine), serta kendaraan berjenis van selama delapan tahun ke depan sejak 2032 kemudian ditetapkan pada 2040, guna membantu negara mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dilansir Reuters, Inggris diharapkan menjadi pemimpin dunia dalam teknologi kendaraan listrik, yang saat ini berencana melarang penjualan mobil bensin dan diesel pada 2040 untuk memenuhi target iklimnya.

“Jika kita serius menjadi pemimpin dunia EV (kendaraan listrik) , pemerintah harus maju dengan target penjualan mobil dan van baru menjadi nol emisi pada 2032,” kata Ketua Komite Bisnis, Energi dan Strategi Industri Rachel Reeves.

Meskipun demikian, laporan itu mengatakan negara harus meningkatkan insentif untuk serapan kendaraan listrik dan mengkritik keputusan untuk memotong insentif pada kendaraan listrik hibrida plug-in mulai November ini.

Ia juga mengatakan, infrastruktur negara untuk pengisian kendaraan listrik belum sesuai dengan tujuan itu.

“Pemerintah perlu memliki pegangan dan memimpin koordinasi dukungan keuangan dan pengetahuan teknis yang diperlukan bagi otoritas lokal untuk mempromosikan infrastruktur ini serta membantu memastikan bahwa mobil listrik adalah pilihan yang menarik bagi konsumen,” tambahnya.

Inggris memiliki sekitar 16.500 titik pengisian daya listrik, tetapi masih membutuhkan lebih banyak guna mencapai setidaknya 100.000 titik pada tahun 2020, menurut laporan perusahaan data yang berbasis di Inggris Emu Analytics pada Mei, demikian Reuters.

Baca juga: Pemerintah melarang kendaraan diesel beroperasi di Berlin

Baca juga: Kebocoran hidrolik picu kebakaran, Ford “recall” GT supercar

Baca juga: Agensi AS mengatakan klaim keamanan Tesla melampaui analisisnya

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Mobil tanpa emisi Nissan Sylphy resmi dijual di China

Jakarta (ANTARA News) – Kendaraan listrik Nissan Sylphy Zero Emission telah resmi dipasarkan di China, setelah diumumkan dalam acara bertajuk Brand Night of Sylphy & Sylphy Zero Emission Launch yang digelar di provinsi Hainan. 

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 670 perwakilan pemerintah, eksekutif perusahaan, diler, pemilik mobil dan media.

“Hari ini, saya senang Anda semua ada di sini untuk bergabung dengan keluarga Sylphy. Sylphy adalah salah satu model terlaris di pasar China, dan peluncuran Sylphy Zero Emission hari ini akan memperkuat jajaran kendaraan energi baru untuk Nissan di China,” ujar managing director DFN, Airton Cousseau, dikutip dari siaran pers yang dikeluarkan Newsroom Nissan Global pada Selasa (16/10).

Sylphy Zero Emission merupakan model strategis pertama untuk mengimplementasikan Nissan Intelligent Mobility di China, dan juga kendaraan listrik pertama yang diperkenalkan sebagai bagian dari rencana DFL Triple One yang diluncurkan pada awal tahun ini.

Dongfeng Motor Company Limited (DFL) berencana untuk memperkenalkan 20 kendaraan berenergi, termasuk EV dan e-POWER, di empat mereknya: Nissan, Infiniti, Venucia dan Dongfeng di China.

“Dalam 12 tahun terakhir, 2,6 juta keluarga di China telah memilih Sylphy sebagai mobil keluarga mereka,” ujar wakil direktur pelaksana DFN Hao Chen. 

“Kami percaya bahwa pengenalan Sylphy Zero Emission akan lebih memenuhi kebutuhan konsumen di China untuk kendaraan listrik di pasar mobil,” tambahnya.

Sylphy Zero Emission telah diterima dengan baik oleh konsumen China sejak acara pra-penjualan pada Juni di Beijing.

Baca juga: Dongfeng Nissan mulai produksi mobil listrik Sylphy Zero Emission

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Fiat Chrysler bersiap untuk memproduksi plug-in hybrid Jeep Renegade

Jakarta (ANTARA News) – Fiat Chrysler (FCA) mengatakan bahwa mereka telah memulai persiapan untuk produksi versi hybrid plug-in dari Jeep Renegade sebagai produsen mobil dengan dorongan elektrifikasi untuk memenuhi aturan emisi ketat, pada Senin (8/10).

Produsen mobil terbesar ketujuh di dunia ini mengatakan pada Juni lalu, Fiat Chrysler akan menginvestasikan 9 miliar euro (10,3 miliar dolar) dalam bentuk mobil listrik dan hibrida selama lima tahun ke depan untuk sepenuhnya mematuhi peraturan emisi di seluruh wilayah.

Ia juga berjanji untuk menghentikan mesin diesel di mobil penumpang Eropa pada 2021 mendatang.

“Hybrid plug-in Jeep Renegade, yang diharapkan sudah berada di pasar pada awal 2020, akan diproduksi di pabrik Melfi FCA di Italia selatan, yang sudah mengaduk-aduk versi mesin pembakaran dari model dan crossover Fiat 500X,” kata FCA kepada Reuters.

Baca juga: Fiat Chrysler akan jual Magneti Marreli

perusahaan mengatakan akan ada lebih dari 200 juta euro dihabiskan untuk mesin baru ini, dengan menambahkan pekerja yang akan dilatih ulang untuk teknologi baru dan pabrik juga akan dimodernisasi. Pada 2022, FCA berencana untuk menawarkan total 12 sistem propulsi listrik, termasuk baterai kendaraan listrik (BEV), plug-in hybrids (PHEV) dan hibrida penuh, katanya, menambahkan tiga puluh model yang berbeda akan dilengkapi dengan satu atau lebih dari sistem ini.

Fiat Chrysler merencanakan akan menambahkan tiga puluh model yang berbeda yang akan dilengkapi dengan satu atau lebih dari sistem ini.

Mantan Ketua Eksekutif FCA Sergio Marchionne telah lama menolak untuk menerima elektrifikasi, dia mengatakan hanya akan melakukannya jika menjual mobil bertenaga baterai dapat dilakukan dengan meraup keuntungan yang besar.

Dia bahkan mendesak pelanggan untuk tidak membeli Fiat 500e milik FCA yang satu-satunya model bertenaga baterai, karena dia banyak kehilangan uang pada setiap penjualan. Tetapi keberhasilan Tesla dan kebutuhan untuk mematuhi aturan emisi ketat memaksa Marchionne untuk berkomitmen pada apa yang dia sebut sebagai pengeluaran yang “paling menyakitkan”.

Baca juga: Fiat Chrysler recall lebih 200.000 minivan dan SUV

Baca juga: Dalam percobaan NHTSA mobil swakemudi menghantam jalan AS

Baca juga: Ford mendirikan badan kreatif guna pemasaran produknya
 

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Mulai 2030, Mazda cuma memproduksi kendaraan berbasis listrik

Jakarta (ANTARA News) – Mazda Motor Corp mengumumkan pada Selasa bahwa semua kendaraan yang diproduksi pada tahun 2030 akan menggabungkan elektrifikasi, sementara 5 persen mobilnya akan menjadi kendaraan sepenuhnya listrik (EV).

Produsen mobil Jepang itu bergabung dengan perusahaan mobil global lain yang berencana untuk mengurangi emisi dengan memproduksi lebih banyak kendaraan bermesin hibrida-bensin, hibrida plug-in, dan baterai EV.

Baca juga: Mazda pikir-pikir boyong banyak model sedan ke Indonesia

Baca juga: Mobil listrik bintang Paris Motor Show kendati pasarnya belum jelas

“Pada 2030, Mazda mengharapkan bahwa mesin pembakaran internal dikombinasikan dengan beberapa bentuk elektrifikasi akan mencapai 95 persen dari kendaraan yang dihasilkannya dan kendaraan listrik baterai akan mencapai 5 persen,” kata pembuat mobil itu dalam sebuah pernyataan dilansir Reuters, Selasa.

Mazda telah mengatakan bahwa pihaknya berencana memasarkan all-battery EV pada tahun 2020. Kemudian pada hari ini mereka mengungkapkan akan mengembangkan dua baterai EV, satu yang akan didukung sepenuhnya oleh baterai dan yang lain yang akan memasangkan baterai dengan rentang extender yang didukung oleh mesin putar mobil.

Baca juga: Apple CarPlay dan Android Auto segera bisa dinikmati di Mazda6

Baca juga: Produsen Jerman dominasi Paris Motor Show 2018, mobil listrik jadi tren
 

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

BMW i3 2019 hadir dengan kapasitas baterai lebih besar

Jakarta (ANTARA News) – Mobil listrik BMW i3 2019 hadir dengan kapasitas baterai yang lebih besar, sehingga mampu menempuh jarak hingga 153 mil dalam sekali pengisian daya.

Ini merupakan peningkatan sebesar 30 persen dibanding model sebelumnya.

Dilansir TechCrunch pada Senin, peningkatan tersebut layak diapresiasi, tetapi BMW i3 2019 masih tertinggal di belakang Chevy Bolt dan Tesla Model S, Model X dan Model 3. Mobil ini hanya sedikit lebih baik dibanding Nissan Leaf yang harganya jauh lebih murah.

Baca juga: Mobil listrik BMW i3s terbaru lebih bertenaga

Saat BMW i3 pertama kali diproduksi pada 2013, mobil itu memiliki baterai berkapasitas 22,6 kWh dengan kandungan baterai 60 ampere (Ah). BMW i3 generasi pertama itu memiliki jangkauan sejauh 81 mil, menurut perkiraan EPA.

Baterai generasi kedua yang diperkenalkan perusahaan pada 2016 kapasitasnya meningkat menjadi 33 kWh dengan kandungan 94 Ah. Jarak tempuh yang berhasil dijangkau sejauh 115 mil.

Pada model 2019, akan menggunakan baterai 120 Ah dengan kapasitas  42,2 kWh, dan dapat melakukan perjalanan sekitar 153 mil dengan sekali pengisian, kata BMW.

Baterai yang telah ditingkatkan ini akan tersedia pada mobil BMW i3 dan i3s. Untuk harganya masih belum diumumkan, tetapi model i3 tahun sebelumnya dibanderol dengan harga sekitar 45.000 dolar AS untuk model dasar.

Baca juga: BMW pamer teknologi mobil listrik i3

Baca juga: Polisi Los Angeles pilih BMW i3 ketimbang Tesla Model S
 

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Toyota pasok teknologi hidrogen ke Caetanobus Portugal

Jakarta (ANTARA News) – Toyota pada Rabu (26/9) mengambil sebuah langkah penting dengan mengumumkan bahwa mereka akan menyediakan teknologi sel bahan bakar hidrogen untuk Caetanobus SA di Portugal.

Sejalan dengan visi Toyota tentang masyarakat dekarbonisasi (mengurangi emisi karbon) sebagaimana dinyatakan dalam tantangan lingkungan 2050, Toyota mempromosikan penerapan teknologi sel bahan bakar hidrogen di luar mobil penumpang, termasuk truk berat, truk pengiriman kecil, forklift dan bus.

Di Eropa, Toyota akan memasok sistem sel bahan bakar, termasuk sel bahan bakar dalam jumlah banyak, tangki hidrogen dan komponen kunci lainnya kepada Caetanobus SA — yang merupakan perusahaan mesin dan produksi bus terkenal di Portugal — untuk membangun bus perkotaan berbahan bakar hidrogen.

Baca juga: Toyota beri bantuan 20 juta yen untuk gempa Hokkaido

“Bus hidrogen memiliki keuntungan yang signifikan dibanding dengan bus nol emisi lainnya, seperti pengisian bahan bakar yang singkat. Manfaat ini memungkinkan bus hidrogen dapat dioperasikan pada rute yang lebih panjang dan pemanfaatan yang lebih tinggi,” ujar Presiden dan CEO Toyota Motor Eropa, Dr Johan Van Zyl, seperti dikutip dari Newsroom Toyota.

Sementara itu, Presiden dari Salvador Castano Industria Holding, Jose Ramos mengatakan pihaknya sangat bangga bisa menjadi perusahaan pertama di Eropa yang mendapatkan keuntungan dari teknologi sel bahan bakar Toyota. Dirinya berharap capaian ini bisa berdampak kepada pengembangan kemampuan manufaktur bus kelas dunia yang dimiliki perusahaannya.

“Kami yakin bahwa hidrogen adalah solusi yang bagus untuk bus nol emisi,” kata Ramos.

Rencananya, Caetanobus akan meluncurkan demonstrasi bus kota berbahan bakar hidrogen pertama pada musim gugur 2019.

Baca juga: Mobil Toyota siap hadapi penerapan Euro 4, pelanggan tak usah khawatir

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Porsche jadi pabrikan mobil Jerman pertama yang tinggalkan mesin diesel

Berlin (ANTARA News) – Pembuat mobil sport, Porsche, mengumumkan pada Minggu bahwa akan menjadi raksasa otomotif Jerman pertama yang meninggalkan penggunaan mesin diesel.

Langkah itu diambil Porsche guna menyikapi skandal emisi (dieselgate) yang pernah dialami induk perusahaannya, Volkswagen, sekaligus mengantisipasi larangan penggunaan mobil bermesin diesel yang diberlakukan di beberapa kota di Jerman.

“Tidak akan ada Porsche bermesin diesel di masa depan,” kata CEO Oliver Blume kepada surat kabar Bild am Sonntag, dilansir AFP, Minggu.

Sebaliknya, merek mobil sport mewah akan berkonsentrasi pada produk yang akan menjadi kekuatan inti perusahaan yaitu, “menggunakan bensin, hibrida dan mulai 2019 kendaraan listrik sepenuhnya”.

Pimpinan Porsche mengakui langkah itu merupakan jawaban atas skandal “dieselgate” yang dialami raksasa otomotif Volkswagen, pada tiga tahun lalu.

Pada 2015, VW mengakui telah memasang sebuah perangkat pada 11 juta mobil di seluruh dunia guna mengakali hasil uji emisi pada mesin diesel.

Akibat kasus itu, VW telah membayar lebih dari 27 miliar euro sebagai biaya ganti rugi, melakukan pembelian kembali pada kendaraan yang terdampak, hingga “recall” yang melibatkan jutaan mobil di seluruh dunia.

Penjualan mobil diesel pun anjlok setelah beberapa kota di Jerman melarang penggunaan mobil diesel guna menurunkan polusi udara.

“Krisis diesel telah menyebabkan banyak masalah bagi kami,” kata Blume.

Sebelumnya, Otoritas Transportasi Federal Jerman memerintahkan Porsche menarik hampir 60.000 SUV di Eropa, demikian AFP.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Hyundai pasok 1.000 truk hidrogen untuk perusahaan Swiss

Jakarta (ANTARA News) – Hyundai mencapai kesepakatan besar dengan perusahaan Swiss H2 Energy (H2E) untuk memasok truk ramah lingkungan berbahan bakar hidrogen (fuel cell vehicle) dalam lima tahun ke depan.

Dengan kesepakatan ini, mulai 2019 Hyundai akan menyediakan 1.000 unit truk berbahan bakar hidrogen untuk keperluan pelanggan Swiss yang diawali dari anggota Swiss H2 Association, kata Hyundai dalam pernyataan resminya.

“Kami lagi-lagi memajukan bidang teknologi sel bahan bakar di industri otomotif dengan pengumuman ambisi kami hari ini untuk mengkomersilkan truk listrik sel bahan bakar untuk pertama kalinya di dunia,” kata Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Divisi Komersial Hyundai Motor In Cheol Lee kepada pers di Hanover, Jerman, Rabu waktu setempat (Kamis dinihari WIB).

Nota kesepahaman (MoU) kesepakatan Hyundai Motor dengan Swiss H2 itu ditandatangani di ajang pameran IAA Commercial Vehicle 2018 di Hannover, Jerman, dimana dari pihak Swiss H2 diwakili Chairman Rolf Huber.

“Ekonomi hidrogen yang berkelanjutan membutuhkan ekosistem yang dirancang untuk hidrogen. Inilah mengapa kolaborasi kami antara Hyundai Motor, H2 Energy, Swiss H2 Association, dan produsen listrik utama di Swiss sangat strategis dan masuk akal,” kata Huber.

Dengan telah diperkenalkannya kendaraan listrik sel bahan bakar yang diproduksi massal pada 2013, yakni Hyundai Tucson fuel cell, dan peluncuran FCEV NEXO tahun ini, pasokan armada truk hidrogen ini menandai ekspansi Hyundai ke pasar kendaraan komersial ramah lingkungan.

Baca juga: Genesis rombak jaringan AS, memangkas setengah jumlah diler

Truk listrik fuel cell yang sedang dikembangkan Hyundai sesuai dengan peraturan Eropa, dengan sistem bahan bakar hidrogen 190kW baru dengan dua sistem fuel cell yang terhubung paralel, seperti yang diterapkan pada NEXO.

  Truk Hyundai yang berbahan bakar hidrogen yang dikombinasikan dengan tenaga listrik. (ANTARA News/Hyundai)

Dengan sistem powertrain itu, kendaraan ini bisa menempuh perjalanan hingga sekitar 400km, dengan delapan tangki hidrogen besar dipasang secara kompak, memanfaatkan area seperti antara kabin dan rangka body yang kuat.

Menurut Hyundai, truk listrik sel bahan bakar ini menawarkan desain yang khas. Ini disajikan dalam desain yang sederhana dan bersih yang juga efisien secara aerodinamis, dan dilengkapi dengan spoiler dan pelindung samping.

Baca juga: Hyundai rilis tampilan awal truk barbahan bakar hidrogen

Grille depan melambangkan hidrogen melalui bentuk geometris, memberikan tampilan yang unik dan kuat pada kendaraan. Kendaraan ini memancarkan tampilan ramah lingkungan dengan aplikasi warna biru dan grafis badan samping yang tebal, yang juga memvisualisasikan karakter dinamisnya.

H2 Energy adalah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam produksi dan pasokan hidrogen terbarukan di Swiss, dengan anak perusahaan di Jerman, Norwegia dan Austria. Perusahaan ini berpengalaman dalam peluncuran ekosistem hidrogen yang dioptimalkan, yang berfokus pada kelangsungan hidup komersial untuk semua pemangku kepentingan.

H2 Energy berencana untuk menyediakan truk listrik sel bahan bakar Hyundai bagi para pelanggan Swiss yang dimulai dengan anggota Swiss H2 Association, yang mencakup beberapa operator stasiun pengisian bahan bakar, pengecer, dan pelanggan lainnya untuk distribusi logistik dan barang.

Baca juga: Hyundai kembangkan sistem swakemudi pakai teknologi game 3D

Pewarta: Suryanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

VW targetkan 10 juta mobil listrik pada gelombang produksi pertama

Frankfurt (ANTARA News) – Grup Volkswagen (VW) berencana membuat 10 juta mobil listrik yang menggunakan platform MEB modular pada gelombang pertama produksi massal yang akan diluncurkan di seluruh dunia pada akhir 2022.

VW akan membuat 27 model mobil untuk empat merek di dalam grup mereka berdasarkan platform MEB atau elektrifikasi modular. ID Volkswagen akan menjadi model pertama yang masuk dapur produksi di Zwickau, Jerman, pada akhir tahun depan.

Setelah skandal emisi tiga tahun lalu, VW mencanangkan rencana besar untuk menjadi pemimpin transportasi ramah lingkungan. VW berencana menginvestasikan 6 miliar euro dalam produksi mobil listrik.

“Dalam gelombang pertama saja, sekitar 10 juta mobil grup VW akan menggunakan platform ini,” kata kepala mobilitas listrik VW, Thomas Ulbrich yang dilansir Reuters, Selasa (18/9).

Baca juga: Volkswagen menuju produksi 1 juta mobil per tahun

Di sisi lain, perusahaan itu tidak mengungkap tenggat waktu untuk menuntaskan program itu, kendati mereka mematok target penjualan 3 juta unit mobil per tahun pada 2025 dari 50 model yang dijual tiap merek dari grup VW.

Volkswagen, seperti pembuat mobil Jerman lainnya, mendorong produksi mobil listrik sebanyak-banyaknya saat saingannya asal AS — Tesla — tengah bermasalah dengan proses manufaktur sedan listrik yang telah diproduksi secara massal.

Pabrikan lainnya, BMW dan Daimler juga berencana meningkatkan produksi dan penjuakan mobil listrik pada tahun-tahun mendatang, demikian Reuters.

Baca juga: VW “kodok” Beetle berhenti diproduksi tahun depan

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018